Travel  

Pagoda Avalokitesvara Vihara Buddhagaya Watugong Semarang

Pagoda Avalokitesvara Vihara Buddhagaya Watugong Semarang

tribunwarta.com – Alamat: Jl. Perintis Kemerdekaan, Pudakpayung, Banyumanik, Kota Semarang 50265Map: Klik DisiniHTM: SeikhlasnyaBuka Tutup: 07.00-21.00 WIBTelepon: (024) 7473590

Pagoda Avalokitesvara Buddhagaya Watugong Semarang ini mempunyai tinggi 45 meter yang terdiri dari 7 tingkat seperti Pagoda pada biasanya.

Tiap – tiap tingkatan mempunyai empat buah patung Dewi Kwan Im yang posisi nya menghadap ke empat penjuru.

Material bangunan dari mulai genteng, aksesori, kolam, lampu relief tangga dari batu, dan air mancur naga, hingga patung burung Hong dan Kilin semuanya diimpor dari China.

Area Vihara Buddhagaya Watugong yang memiliki luas 2,25 hektar ini terdiri dari 5 bangunan utama dengan 2 bangunan utama, adalah Pagoda Avalokitesvara dan Vihara Dhammasala yang dibangun pada tahun 1955.

Kecuali itu, dalam area Vihara terdapat pula Monumen Watugong, patung Dewi Kwan Im, patung Buddha di bawah pohon Bodhi di pekarangan vihara, patung Buddha tidur berwarna cokelat dengan baju dan tubuh berwarna emas lalu kolam teratai.

Pohon Bodhi (Ficus Religiosa) yang berada di pekarangan Vihara Buddhagaya ini ditanam oleh Bhante Naradha Mahathera di tahun 1955.

Berdasarkan sejarah, vihara Buddhagaya Watugong dibangun mulai tahun 1957, dan merupakan vihara pertama yang ada di Indonesia setelah keruntuhan kerajaan Majapahit.

Ketika itu masih objek tersebut masih berupa vihara kecil, dan sempat tak terurus selama beberapa tahun.

Hingga akhirnya Sangha Theravada Indonesia mempunyai ide untuk merenovasinya menjadi sebuah vihara yang besar, menawan, dan megah. Hingga di tahun 2006 spot ini diresmikan kembali.

Keunikan dari bentuk bangunan dan warna mencolok yang di punyai Padoga ini menjadi daya Tarik tersendiri bagi wisatawan yang datang berkunjung dari berbagai daerah, baik dalam maupun luar kota.

Sehingga jika Anda berencana untuk datang berkunjung ke kota Semarang, pastinya akan sayang jika Anda melewatkan tempat yang satu ini.

Sejarah Singkat

Vihara Buddhagaya Watugong mempunyai sejarah panjang hingga perkembangan yang besar pada saat ini.

Kurang lebih dari 500 tahun setelah keruntuhan Kerajaan Majapahit, timbullah berbagai peristiwa yang menyadarkan penduduk akan warisan luhur nenek moyang yakni Buddha Dhamma supaya bisa kembali dipraktekkan para pemeluknya.

Usaha yang semula banyak digagas di zaman Hindia-Belanda. Akhirnya keinginan akan adanya orang yang mampu mengajarkan Buddha Dhamma pada umat bisa terwujud dengan kehadiran Bhikkhu Narada Maha Thera dari Srilanka pada tahun 1934.

Gayung pun bersambut, kehadiran Dhammadutta tersebut dimanfaatkan oleh umat dan simpatisan untuk mengembangkan pembicaraan dan memohon penjabaran Dhamma secara lebih luas lagi.

Puncaknya muncul putra pertama Indonesia yang mengabdikan diri secara penuh pada penyebaran Buddha Dhamma, adalah pemuda Bogor bernama The Boan An yang kemudian menjadi Bhikkhu Ashin Jinarakkhita.

Di tahun 1955 Bhikkhu Ashin Jinarakkhita mengepalai perayaan Waisak 2549 di Candi Borobudur.

Pada saat itu ada seorang hartawan yang menjadi tuan tanah dari Semarang yang bernama Goei Thwan Ling dengan latar belakang agama Buddha.

Ia yang terkesan pada kepiawan dan kepribadian Bhikku Ashin Jinarakkhita, maka Goei Thwan Ling menghibahkan dan mempersembahkan sebagian tanah miliknya untuk digunakan sebagai sentra pengembangan Buddha Dhamma.

Daerah itulah yang kemudian diberikan nama Vihara Buddhagaya. Di tanggal 19 Oktober 1955 didirikan Yayasan Buddhagaya untuk menaungi aktivitas vihara. Mulai dari vihara inilah kemudian satu periode baru pengembangan Buddha Dhamma berkelanjutan.

Di tahun 1955, Bhikkhu Ashin Jinarakkhita sang penggerak kebangkitan Buddha Dhamma di nusantara menetap di Vihara Buddhagaya Semarang.

Banyak sekali sejarah besar yang beliau catat bersama Vihara Buddhagaya, seperti Upasika Indonesia saat melaksanakan perayaan Asidha di bulan Juli 1955.

Lalu menggagasperayaan Buddha Jayanti yang diperingati oleh umat Buddha di seluruh dunia pada tahun 1956.

Berikutnya adalah penanaman pohon Bodhi di tanggal 24 Mei 1956 dan pendirian Sima Internasional pertama di KASAP untuk penahbisan Bhikkhu.

Lalu sebagian dikala selama kurang lebih delapan tahun vihara ini sempat tak terurus, tapi sekarang bangkit kembali di bawah binaan Sangha Theravada.

Karenanya pada bulan Februari 2001 dilaksanakan revitalisasi dan renovasi pada vihara yang diawali dengan pembangunan Gedung Dhammasala dan diresmikan pada tanggal 3 November 2002 oleh Gubernur Jawa Tengah yaitu H.Mardiyanto.

Selanjutnya dibangun pula bangunan yang lain ialah Pagoda Avalokitesvara pada bulan November 2004 dan diresmikan pada tanggal 14 Juli 2005 oleh Gubernur Jawa Tengah yaitu H.Mardiyanto.

Kegiatan Wisata yang Bisa dilakukan

    Aktivitas wisata pertama yang bisa dilakukan tentu yaitu berfoto dengan latar belakang patung dan Pagoda atau bangunan lain yang berada di area Vihara Budhagaya.

    Umat Budha biasa melaksanakan ritual Tjiam Shi (ritual untuk mengetahui nasib manusia) di dalam Pagoda ini. Anda juga bisa melakukannya dengan menggoyangkan bambu-bambu yang diberikan pertanda hinggasalah satunya terjatuh.

    Bagi Anda yang menyenangi ramalan, di pagoda ini Anda juga bisa meminta petugas Pagoda untuk membacakan nasib ramalan Tjiam Shi.

Pesona lain

Bangunan kedua yang menyita perhatian dari Vihara Buddhagaya adalah Vihara Dhammasala. Bangunan Dhammasala ini mempunyai dua lantai.

Lantai pertama adalah aula serbaguna yang memiliki panggung di bagian depan, sedangkan di lantai kedua terdapat ruang Dhammasala yang digunakan untuk acara ibadah umat Buddha.

Isi di vihara ini ada patung Buddha yang sedang duduk berwarna emas dengan ukuran besar.

Di sekeliling Vihara Dhammasala, terdapat pagar dengan ukiran relief cerita Paticca Samuppada, adalah proses kehidupan manusia dari lahir hingga meninggal dunia.

Untuk memasuki vihara, ada ritual khusus yang wajib dilakukan, adalah menginjak relief ayam, ular, dan babi yang ada di pintu masuk vihara.

Menurut keyakinan umat Buddha, ayam yaitu simbol keserakahan, ular adalah lambang kebencian, sedangkan babi melambangkan kemalasan.

Dengan menginjak relief hewan – hewan ini, maka umat manusia diharapkan bisa meninggalkan karakter-karakter hal yang demikian dan bisa masuk nirwana.

Rute dan Alamat

Lokasi Pagoda Avalokitesvara terletak di Jalan Perintis Kemerdekaan, Watugong, Semarang atau tepat di depan Markas Kodam IV Diponegoro.

Pagoda ini bisa ditempuh dengan mudah baik dengan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum seperti Trans Semarang dengan biaya Rp.3.500,- (jauh dekat).

Vihara Buddhagaya di Jalan Raya Pudakpayung Watugong, Semarang. Dari pusat Kota Semarang, Anda bisa menempuh perjalanan selama 45 menit dengan kendaraan beroda empat ke arah Ungaran, atau jalan menuju Solo-Jogja.

Sebab lokasinya yang berada di pinggir jalan besar dan pas di depan Markas Kodam IV Diponegoro, Watugong, Vihara Buddhagaya bisa diakses dengan gampang.

Kawasan ini dinamakan Watugong sebab di daerah hal yang demikian ditemukan batu (watu) yang bentuknya seperti gong.

Harga Tiket Masuk

Vihara Budhagaya ini mulai dibuka pada pukul 07.00 pagi hingga 09.00 malam. Sedangkan untuk biaya masuknya, pengurus tak memberikan tarif retribusinya secara pasti, hanya akan dikenakan tarif parkir kendaraan seiklasnya saja.

Fasilitas Umum

1. Penginapan

Letaknya yang ada di pusat kota, Anda bisa dengan mudah menemukan penginapan atau hotel bagus di jalan Perintis Kemerdekaan atau di daerah lainnya.

Pengurus Vihara juga menyediakan cottage untuk menginap. Tetapi saya sendiri tak tahu berapa tarif permalamnya.

2. Rumah Makan

Anda juga bisa menemukan rumah makan atau restoran di sepanjang jalan Perintis Kemerdekaan.

Baik itu rumah makan sederhana dengan menu seperti sate dan soto sampai makanan cepat saji atau fast food. Jika ingin mendapatkan banyak opsi, dari Vihara ini ambil arah utara.

3. Toilet

Di dalam kompleks Vihara Budhagaya terdapat beberapa toilet di beberapa titik yang terawat dan bersih.

Tips Berlibur

Karena area Vihara ini adalah tempat ibadah bagi umat Budha, maka saat berkunjung ke sana, pastikan Anda menggunakan baju yang rapi dan tertutup serta berbicara sopan dan jangan berisik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!