Travel  

Mengintip Suasana Lebaran di Negeri Ginseng Korea Selatan

Mengintip Suasana Lebaran di Negeri Ginseng Korea Selatan

tribunwarta.com

Mengintip semarak berlebaran di negara-negara non muslim tentu memberi pengetahuan baru. Berbeda dengan Indonesia yang mayoritas masyarakatnya memeluk Islam, muslim di negara non muslim harus menghadapi tantangan tersendiri.

Salah satu negara berpenduduk non muslim adalah Korea Selatan. Negara yang terkenal dengan industri musik Kpop tersebut rupanya begitu familiar dengan tradisi lebaran. Beberapa artis korea juga tak segan mengucapkan selamat berlebaran untuk para fansnya.

Suasana berlebaran di Korea Selatan tentu sedikit berbeda dengan di Indonesia, terutama bagi para WNI. Menghabiskan waktu lebaran di negara ini akan membuat kita merindukan atmosfer lebaran di tanah air.

Mengingat tak ada acara khusus yang dilakukan oleh pemerintah untuk menyambut datangnya hari kemenangan.

Pasalnya Islam bukanlah agama mayoritas disini, namun hanya sedikit saja warga negaranya yang memeluk islam. Kebanyakan kaum muslim Korea Selatan adalah para pendatang dari negara-negara lain.

Berbicara tentang lebaran di Korea Selatan, tepatnya Seoul, anda akan disambut dengan euforia salat eid di Islamic Center. Mesjid ini menjadi salah satu pilihan masyarakat untuk melaksanakan salat eid yang khusu’.

Antara jamaah pria dan wanita dibedakan pada lantai 1 dan 2, sehingga tidak bercampur. Di dalam mesjid, lantunan takbir dikumandangkan selama salat eid belum dan sudah berlangsung.

Anda akan mendengarkan lantunan merdu takbir yang menggema ke sekitar mesjid. Bagi sebagian WNI, alunan takbir benar-benar membawa memori mereka kembali ke suasana lebaran di tanah air.

Selain Islamic Center, beberapa lapangan juga dipergunakan untuk salat eid. Seringkali masyarakat asli Korea Selatan dibuat terkagum-kagum menyaksikan pemandangan tersebut. Bagaimana tidak, lapangan luas mereka digunakan kaum muslim untuk melaksanakan salat eid berjamaah.

Pasalnya selama ini lapangan-lapangan luas hanya digunakan untuk pertunjukan konser musik yang mampu menyedot ribuan orang. Bayangkan saja bagaimana rasa takjub mereka terlihat jelas dari raut wajah penduduk asli.

Saking penasarannya, beberapa orang sengaja menyempatkan diri untuk turut duduk dan mendengarkan khotbah salat eid. Sayangnya hari raya di Korea Selatan tidak termasuk hari libur yang diakui oleh pemerintah.

Sehingga semua orang masih bekerja pada hari kemenangan tersebut. Khusus WNI yang tengah bekerja di Korea Selatan diberikan surat edaran dari KBRI. Surat tersebutlah yang digunakan WNI untuk meminta izin libur demi menjalani salat eid.

Sayangnya tak semua kantor yang memberikan izin bagi para pekerja muslim untuk salat eid. Banyak juga pekerja yang tak bisa menjalani salat eid karena tetap harus bekerja. Tetapi adapula kampus dan kantor yang mengerti betapa pentingnya idul fitri bagi kaum muslim.

Mereka tak membutuhkan surat izin khusus untuk umat muslim libur saat salat eid. Kampus dan kantor akan memberikan izin sehari bagi umat muslim yang ingin melaksanakan salat eid dan bersilahturahmi.

Meskipun bukan hari libur, rupanya hal tersebut tak mengurangi rasa bahagia kaum muslim. Mereka tetap berbondong-bondong melaksanakan salat eid berjamaah di beberapa lokasi yang telah ditentukan.

Di Islamic Center sendiri, ada pemandangan tak biasa usai salat eid berlangsung. Tepat di pelataran mesjid terlihat beberapa orang membagikan roti dan susu secara percuma.

Inilah salah satu bentuk kebahagiaan umat muslim yang hidup di negeri minoritas tersebut, berbagi kepada sesama di tengah perantauan.

Silahturahmi di Korea Selatan tak seramai di Indonesia yang bisa berlangsung selama berhari-hari. Di Korea Selatan, umat muslim umumnya langsung bersalaman dan bersilahturahmi usai salat eid.

Tak ada kunjungan khusus dari rumah ke rumah layaknya berlebaran di tanah air. Para WNI juga sulit menemukan panganan khas lebaran, seperti opor, sambal ati, ketupat ataupun rendang.

Mereka mesti berpuas diri dengan panganan khas masyarakat setempat yang tentunya sudah terjamin halal.

Makanan halal sendiri memang cukup sulit dijumpai, sehingga harus pintar-pintar. Meskipun demikian, di sekitar Islamic Center terdapat warung makan halal yang menyediakan menu lezat untuk kaum muslim.

Warung tersebut tetap buka di hari lebaran, tentunya sangat membantu kaum muslim yang tak sempat memasak.

Selain bersantap di warung, adapula beberapa orang yang memiliki berpiknik dengan membawa bekal dari rumah. Menikmati makanan sembari berbincang dengan kerabat yang dikenal di negeri ginseng tersebut tentu tak menjadi masalah.

Untuk zakat sendiri, ada amil zakat yang dibentuk oleh WNI di Korea Selatan. Pengumpulan zakat dilakukan seminggu menjelang lebaran hingga sebelum salat eid. Nantinya zakat yang terkumpul akan langsung disalurkan melalui amil zakat di tanah air.

Para WNI biasanya memanfaatkan amil zakat tersebut untuk menunaikan kewajiban mereka. Berbagi kebahagiaan dengan saudara muslim di tanah air tak melulu mewajibkan mereka mudik ke tanah air.

Lewat zakat yang dibayarkan, mereka telah menyumbangkan seukir senyum di wajah saudara-saudara yang tak mampu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!