Travel  

5 Makna Filosofis Batik Parang yang Tidak Boleh Dipakai Sembarangan

5 Makna Filosofis Batik Parang yang Tidak Boleh Dipakai Sembarangan

tribunwarta.com – – Batik parang tengah menjadi sorotan usai larangan pemakaiannya saat resepsi pernikahan Kaesang Pangarep dan Erina Gudono di Pura Mangkunegaran pada Sabtu (10/12/2022) mendatang.

Sebagian masyarakat, khususnya di Solo dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mungkin telah mengatahui larangan memakai batik parang bagi kalangan umum.

Namun, bagi masyarakat awam alasan di balik larangan tersebut tentunya masih menjadi pertanyaan. Singkatnya larangan tersebut ternyata berkaitan dengan makna filosofis batik parang .

Apa yang dimaksud dengan batik parang?

Sebelum memahami makna filosofis, lebih dulu kita harus memahami apa yang dimaksud dengan batik parang? Dengan demikian, masyarakat dapat mengenali motif batik parang ketika hendak membeli kain batik.

Pengamat Budaya Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Prof. Dr. Bani Sudardi menjelaskan motif batik parang merupakan motif yang menggambarkan ombak di laut selatan Yogyakarta yang mengenai tebing karang.

“Batik parang adalah satu motif batik yang terdiri dari gambaran ombak dan lokasi yang miring. Tempat ini menggambarkan ombak pada daerah Parangtritis yang bergunung-gunung serta miring,” ujarnya kepada Kompas.com, Rabu (7/12/2022).

Mengutip dari laman Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, motif batik parang termasuk motif batik tertua di Indonesia yang sudah ada sejak Kerajaan Mataram.

Nama parang berasal dari bahasa Jawa pereng yang berarti lereng atau tebing. Nama tersebut mewakili motif batik parang yang menyerupai huruf S secara diagonal atau garis miring.

Susunan motif S tersebut saling berkesinambungan alias tidak terputus.

Motif batik parang bervariasi. Mengutip dari laman Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, motif batik parang meliputi parang rusak barong, parang barong, parang gendreh, dan parang klithik.

Makna filosofis batik parang

Berikut sejumlah makna filosif motif batik parang seperti dihimpun Kompas.com.

1. Penghormatan raja Jawa kepada leluhur

Bani mengatakan makna filosofis batik parang adalah bentuk penghormatan raja-raja Jawa kepada leluhurnya. Asal batik parang adalah pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo, guna menghormati leluhurnya yakni Panembahan Senapati.

Bani mengatakan, motif batik parang merupakan simbol perjuangan Panembahan Senapati saat melakukan tirakat di pantai selatan Yogyakarta.

“Hingga akhirnya, Panembahan Senapati mendapatkan ilham dan keberanian untuk mendirikan Kerajaan Mataram,” imbuhnya.

2. Petuah agar manusia tidak mudah menyerah

Mengutip dari laman Indonesia Travel, makna filosofis batik parang adalah nilai sekaligus petuah agar manusia tidak mudah menyerah terhadap segala yang terjadi dalam kehidupan.

Pola garisnya yang saling berkesinambungan menggambarkan konsistensi manusia dalam memperbaiki diri dari waktu ke waktu dan pantang menyerah untuk mencapai kesejahteraan.

Selain itu, motif batik parang upaya manusia terus memperbaiki hubungan dengan Tuhan, alam, maupun sesamanya.

3. Pedang para ksatria

Mengutip dari laman Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, ada dua versi makna filosofis motif batik parang.

Versi pertama, motif ini berasal dari bentuk pedang para ksatria dan penguasa saat berperang. Ksatria yang mengenakan motif ini diyakini kekuatannya bisa berlipat ganda.

4. Ombak laut selatan

Versi lain mengatakan, motif batik parang ini diciptakan Panembahan Senapati saat mengamati gerak ombak laut Selatan yang menerpa karang di tepi pantai.

Jadi, pola garis lengkung pada motif batik parang bermakna ombak lautan yang menjadi pusat tenaga alam.

5. Lambang kekuasaan

Motif batik parang juga mengandung makna filosofis kedudukan raja. Komposisi miring pada motif batik parang ini, menjadi lambang kekuasaan, kebesaran, kewibawaan, dan kecepatan gerak.

Tidak boleh dipakai sembarangan

Beragam makna filosofis motif batik parang tersebut, membuat pemakaiannya terikat dengan aturan-aturan tertentu, sehingga tidak semua orang boleh memakainya atau disebut sebagai awisan dalem di Keraton Yogyakarta.

Bani menjelaskan, motif batik parang merupakan batik yang khusus digunakan oleh para raja. Oleh sebab itu, masyarakat umum tidak boleh sembarangan menggunakan motif batik parang utamanya saat berada di area keraton.

“Batik parang atau lereng dilarang digunakan masyarakat biasa karena merupakan batik yang dikhususkan untuk raja ketika berada di penghadapan,” tandasnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram “Kompas.com News Update”, caranya klik link , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!