Travel  

10 Gambar Masjid Saka Tunggal Purwokerto, Sejarah Asal Usul, Lokasi Alamat, Arsitektur Pembangunan + Keunikan Dari Bangunan

10 Gambar Masjid Saka Tunggal Purwokerto, Sejarah Asal Usul, Lokasi Alamat, Arsitektur Pembangunan + Keunikan Dari Bangunan

tribunwarta.com – Lokasi: Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah 53176Map: Klik DisiniHTM: Rp5.000,-Buka/Tutup: –Telepon: –

Indonesia adalah negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Sehingga, tidak heran bila di setiap tempat banyak dijumpai masjid atau langgar.

Selain sebagai rumah ibadah, mushola-mushola itu juga dijadikan tujuan wisata religi. Entah karena keunikan, sejarah, mitos atau kisah mistis di baliknya.

Salah satu yang masuk dalam kategori tersebut adalah Masjid Saka Tunggal. Ia merupakan surau tertua yang ada di Nusantara, tapi masih difungsikan sebagai tempat ibadah hingga saat ini.

Pada hari libur atau hari-hari besar Islam pun kerap dikunjungi para wisatawan dari luar Jawa yang ingin melihat bentuk bangunannya nan menarik. Penasaran? Simak deskripsi berikut.

Sejarah Masjid Saka Tunggal

Bernama resmi Saka Tunggal Baitussalam, masjid ini dibangun oleh Kiai Mustolih. Pria yang akrab disapa Mbah Tolih tersebut pernah dibahas dalam sebuah makalah yang diterbitkan UNY (Universitas Negeri Yogyakarta).

Penelitian yang berjudul “Pertumbuhan dan Perkembangan Islam Aboge di Desa Cikakak, Wangon, Banyumas” menyebutkan bahwa beliau merupakan tokoh penyebar ajaran Islam sekaligus pendiri Desa Cikakak.

Beliau juga diyakini sebagai putra Prabu Siliwangi dari Padjajaran yang bernama kecil Kian Santang. Meski demikian, sang penulis belum bisa membuktikan kebenaran cerita masyarakat itu secara ilmiah.

Jika ingin mengetahui penjelasan komplitnya, Anda bisa mendownload makalah tersebut versi PDF di internet.

Mbah Tolih sendiri membangun Masjid Saka Tunggal di tengah hutan pedesaan atau kira-kira 1 km dari jalan raya Kabupaten Banyumas saat usianya sudah cukup tua.

Asal usul masjid itu dinamakan demikian karena ia hanya ditopang oleh satu pilar. Pada penyangga terdapat ukiran tahun berdirinya dalam huruf Arab yang menunjukkan angka 1288. Tapi, ada ketidakcocokan antara angka yang terpahat dengan riwayat Mbah Tolih.

Dalam Babad Wirasaba diceritakan kejadian yang melibatkan beliau dengan Kiai Mranggi dan anak angkatnya yang hendak menikah dengan putri Adipati Wargautama, R. Joko Kahiman sebelum Mbah Tolih akhirnya membabat alas.

Peristiwa itu kemungkinan terjadi antara tahun 1500-1568. Tahun 1568 sendiri adalah perkiraan gugurnya Adipati Wargautama yang dibunuh oleh utusan Pajang pada awal mula berdirinya Kesultanan Pajang.

Apabila Mbah Tolih membangun Masjid Saka Tunggal di tahun 1288, artinya beliau hidup selama lebih dari 200 tahun.

Namun, bila benar bahwa 1288 merupakan tahun pendiriannya, maka tidak lazim bila di masa itu orang Jawa mengacu pada tanggalan Masehi.

Sebetulnya, tahun pembuatan masjid telah tertulis dalam kitab-kitab yang ditinggalkan Mbah Tolih. Tapi, sayang, benda itu telah hilang bertahun-tahun yang lalu. Sehingga, sampai saat ini, jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut masih menjadi misteri.

Arsitektur Masjid Saka Tunggal

Sebagaimana yang telah disebutkan dan terdapat pada gambar, masjid dengan dimensi 12 x 18 meter ini memiliki tiang penyangga tunggal.

Saka yang mempunyai tinggi sekitar 5 meter dan diameter 30 cm itu terbuat dari sebongkah kayu, masih berdiri dengan kokoh sejak dibangun pertama kali. Bagian bawahnya diberi kaca untuk melindungi tulisan yang berisi tentang pendirian masjid.

Pancang itu sendiri melambangkan bahwa hiduplah seperti huruf alif, lurus atau tidak bengkok (maksudnya, berperilaku buruk).

Ia dikelilingi oleh empat helai sayap sebagai simbol “papan kiblat lima pancer” yang mengandung arti manusia dikelilingi oleh empat unsur, yakni air, api, bumi dan angin.

Unsur tersebut bermakna bahwa hidup harus seimbang. Hindari terlalu sering bermain air bila tidak ingin tenggelam, jangan bermain api jika tidak mau terbakar dan sebagainya.

Sayap-sayap itu juga melambangkan empat nafsu pada diri manusia, yaitu Aluamah, nafsu dasar, seperti makan dan minum. Sufiyah, senang dipuji, ingin mendapatkan kekayaan dari pesugihan dll.

Amarah, terkait dengan rasa marah dan emosi. Serta Mutmainah atau nafsu mengajak manusia pada kebaikan.

Selain itu, di dalam surau, Anda juga bisa menemui dua ukiran bergambar sinar matahari, menyerupai lempeng mandala yang kerap dijumpai pada bangunan-bangunan kuno di jaman Singosari dan Majapahit.

Atap masjidnya juga sangat khas karena terbuat dari ijuk kelapa berwarna hitam nan mengingatkan kita akan pura di era Majapahit. Tempat wudhunya masih dipertahankan, hanya saja dindingnya telah diganti dengan tembok.

Di samping beberapa hal yang sudah disampaikan, masjid tersebut memiliki peninggalan sejarah, seperti bedug beserta kentongnya, lampu gantung, tongkat dan mimbar.

Keunikan Masjid Saka Tunggal

Selain keistimewaan bangunannya, Masjid Saka Tunggal mempunyai legenda kera yang tersebar di pelataran masjid, area pemakaman hingga pemukiman warga.

Menurut juru kunci surau kuno tersebut, dulu ada beberapa santri yang melanggar kewajiban shalat Jum’at dan malah memancing ikan di kali sampai membuat keributan.

Karena kecewa, Mbah Tolih marah besar, lalu berkata bahwa kelakuan mereka tidak berbeda dengan kera. Ucapan itu justru membawa bencana bagi mereka yang akhirnya berubah menjadi kumpulan kera.

Terlepas benar-tidaknya, kisah itu menyampaikan pesan bahwa manusia seharusnya tidak berperilaku seperti hewan.

Keunikan lainnya adalah setiap tanggal 27 Rajab, masjid ini selalu mengadakan tradisi pergantian Jaro (pagar bambu) dan pembersihan makam Mbah Tolih. Warga yang berpartisipasi sebagian besar merupakan keturunan Mbah Tolih, sehingga bisa menjadi ajang silaturahmi bagi mereka.

Lokasi Masjid Saka Tunggal

Alamat Masjid Saka Tunggal ada di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Letak surau tersebut tidak terlalu jauh dari Purwokerto, hanya berjarak sekitar 29 km.

Untuk menuju ke lokasi, Anda bisa melewati Jalan Ajibarang Secang. Lebih jelasnya, silakan ikuti arahan dari peta.

Biaya yang dikenakan untuk menikmati wisata religi ini hanya Rp5.000,-. Anda akan mendapat makanan untuk diberikan kepada para kera.

Selain Kecamatan Wangon, terdapat masjid dengan nama sama di Kecamatan Pekuncen yang diketahui dibangun pada 1915. Lalu, Masjid Jami’ Saka Tunggal di Desa Pekuncen, Kecamatan Sempor, Kabupaten Kebumen yang berjarak 2,7 km dari Kota Gombong.

Kemudian, Anda juga bisa menemui surau dengan nama tersebut di Kelurahan Patehan, Kecamatan Kraton, Jogja dengan gaya arsitektur tajug saka tunggal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!