Sudah ada 700 juta pelanggan dunia gunakan 5G

Sudah ada 700 juta pelanggan dunia gunakan 5G

Pihak Huawei mengatakan bahwa saat ini sudah ada 700 juta pelanggan di dunia yang gunakan jaringan 5G.

Huawei kembali menggelar sebuah forum internasional bertajuk Huawei Global Mobile Broadband Forum (MBBF) ke-13. Kali ini, mereka menggelar acara tersebut di Bangkok, Thailand pada 24 Oktober 2022.

Acara ini resmi dibuka dengan kata sambutan dari Rotating Chairman Huawei, Ken Hu. Dalam acara ini, dia mengatakan bahwa pertumbuhan jaringan 5G sekiranya lebih cepat jika dibandingkan dengan pertumbuhan jaringan generasi sebelumnya.

Dia mengatakan, dalam waktu hanya tiga tahun, pertumbuhan jaringan tersebut secara global sangatlah signifikan. Hal ini termasuk dalam hal penyebaran jaringan, layanan konsumen, dan aplikasi dalam industri.

Hu menyebut, dalam sebuah laporan, sampai Oktober 2022, sudah terdapat 230 operator telekomunikasi di seluruh dunia yang telah meluncurkan layanan 5G komersial. Totalnya, lebih dari tiga juta base station 5G telah terpasang untuk melayani lebih dari 700 juta pelanggan.

“5G saat ini melaju di jalur cepat dan kita semua perlu merasa bangga dengan kemajuan yang telah kita capai. Akan tetapi, banyak hal lain yang dapat kita lakukan untuk memaksimalkan nilainya,” ujar Hu dalam siaran pers yang diterima redaksi Tek.id (24/10).

“Kita perlu bekerja sama untuk sepenuhnya melepaskan potensi jaringan 5G dan memperluas dampaknya dalam bentuk layanan seperti cloud dan integrasi sistem, Bersama-sama, kita dapat mendorong lompatan perkembangan dalam jaringan 5G, aplikasinya, dan industri secara keseluruhan.”

Di sektor telekomunikasi, layanan pelanggan masih merupakan penyumbang pendapatan terbesar bagi bisnis operator telekomunikasi atau pengelola jaringan (carrier). Seiring dengan peningkatan penetrasi 5G, kian banyak orang yang merasakan sendiri pengalaman yang jauh lebih mengesankan, sehingga mendorong pergeseran dalam perilaku konsumen, salah satunya adalah lonjakan trafik video high definition (HD). 

Hadir juga berbagai aplikasi seluler baru dengan memanfaatkan kecepatan 5G yang jauh lebih tinggi serta latensi yang lebih rendah, yang kemudian mendongkrak rata-rata konsumsi data pengguna (DOU) menjadi dua kali lipat serta meningkatkan rata-rata pendapatan per pengguna (ARPU) sebesar 20% – 40%, berkontribusi pada pertumbuhan pendapatan bisnis operator telekomunikasi secara stabil dari lini bisnis konektivitas.

Pada saat yang sama, aplikasi B2B 5G berkembang menjadi mesin pencetak dan pendorong pendapatan baru bagi operator telekomunikasi, yang menciptakan pendapatan dalam jumlah cukup besar dari sejumlah sektor industri seperti migas, manufaktur, dan transportasi.

Tak sekadar inovatif, aplikasi-aplikasi ini juga menghasilkan nilai komersial secara nyata bagi bisnis operator telekomunikasi. Sebagai gambaran, pada tahun 2021, sebuah operator telekomunikasi di Tiongkok berhasil meraup lebih dari CNY3,4 miliar (sekitar USD500 juta) pendapatan baru yang dihasilkan dari lebih dari 3.000 proyek 5G industrial.

Yang tak kalah mengagumkannya, proyek-proyek ini juga menghasilkan pendapatan hingga 10 kali lipat dari yang dihasilkan oleh berbagai layanan data dan TIK terintegrasi.

Aplikasi B2B 5G digadang-gadang akan menjadi alur pendapatan dengan pertumbuhan tercepat bagi operator telekomunikasi. Teknologi 5G memampukan terciptanya berbagai inovasi dalam skenario layanan, aplikasi, dan model bisnis, yang semuanya akan membuka jalan bagi peluang pertumbuhan industri yang tak terbayangkan sebelumnya.

Membangun jaringan untuk menciptakan pengalaman pengguna yang lebih baik

Cakupan yang lebih luas bukanlah satu-satunya tujuan membangun jaringan, sebab idealnya jaringan dibangun guna mengoptimalkan berbagai bentuk pengalaman pengguna. Sebagai contoh, operator telekomunikasi di Tiongkok telah mengoptimalkan jaringan mereka untuk TikTok dan layanan video populer lainnya, pertama-tama dengan memangkas gangguan penundaan input hingga 50% dan frame freeze (gambar berhenti) hingga 90%. 

Dengan pengalaman video yang lebih mulus, konsumsi data meningkat dua kali lipat dan menarik lebih banyak konsumen untuk menggunakan layanan 5G.

Mendorong pengembangan 5,5G

Untuk mendorong 5G ke tingkat yang lebih tinggi, Huawei bekerja sama dengan para operator telekomunikasi dan mitra industri dan mengajukan empat fitur untuk 5,5G, yang merupakan evolusi selanjutnya dari teknologi 5G: kecepatan downlink 10 Gbps, kecepatan uplink 1 Gbps, dukungan untuk 100 miliar koneksi, dan native intelligence atau kecerdasan asli. 

Mendorong inovasi layanan guna memaksimalkan nilai 5G

Dengan bandwidth lebar dan latensi rendah, 5G dapat diintegrasikan dengan cloud dan AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan) untuk menyediakan layanan yang benar-benar baru bagi konsumen maupun dunia usaha. 

Operator telekomunikasi akan dapat menyajikan berbagai pengalaman baru seperti realitas terkembang (extender reality atau XR), cloud gaming, dan layanan panggilan yang diperkaya bagi konsumen individual, serta menghadirkan solusi transformasi digital yang lebih komprehensif bagi bisnis. 

Semua ini akan membuka aliran pendapatan baru, memberikan kesempatan bagi operator telekomunikasi untuk mengembangkan lebih dari sekadar konektivitas menuju layanan cloud dan integrasi sistem.

Digitalisasi industri adalah gelombang berikutnya dalam pembangunan ekonomi global. Sebagai pemampu utama transformasi digital, 5G membuka pintu ke dunia penuh peluang baru. Akan tetapi untuk mewujudkan ini, ekosistem TIK perlu bekerja sama dan melakukan yang terbaik yang mereka mampu. 

“Jika kita bekerja bersama-sama, kita akan dapat mendorong lompatan perkembangan dalam jaringan 5G, aplikasinya, dan industri secara keseluruhan,” pungkas Hu.


Artikel ini bersumber dari www.tek.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *