Mantan Karyawan Twitter, Dipecat Elon Musk, Diincar Perusahaan Lain

Mantan Karyawan Twitter, Dipecat Elon Musk, Diincar Perusahaan Lain

tribunwarta.com – Selama sebulan terakhir di bawah kepemimpinan Elon Musk , Twitter sudah memecat setidaknya 50 persen karyawannya atau setara 3.700 orang.

Terbaru, ratusan karyawan Twitter juga melakukan aksi pengunduran diri (resign) berjemaah karena menolak budaya kerja yang diberlakukan oleh Elon Musk.

Namun, mantan karyawan Twitter yang kena PHK atau memilih resign tersebut tampaknya tak perlu khawatir menganggur terlalu lama. Sebab, perusahaan teknologi lain siap untuk menampung mereka.

Menurut laporan Reuters, setidaknya ada dua perusahaan teknologi yang mengincar para eks-karyawan Twitter, yaitu perusahaan software Hubspot dan startup CoderPad.

Menariknya, dua eksekutif perusahaan tersebut membuat postingan lowongan pekerjaan dengan menyindir budaya kerja Elon Musk untuk memikat para mantan karyawan Twitter.

Misalnya, seperti yang dilakukan Karie Burke, Chief People Officer di perusahaan software, Hubspot. Dalam sebuah unggahan di LinkedIn, Burke mengecam Musk karena disebut memecat karyawan setelah mengkritik Musk di saluran internal Slack.

Bagi Burke, seharusnya kritik menjadi bagian yang tak terpisahkan dari jabatan pimpinan.

“Sebagai seorang pemimpin, dikritik adalah bagian dari pekerjaan Anda,” tulisnya di postingan Linkedin.

“Pemimpin yang hebat itu sadar bahwa debat dan perbedaan pendapat membuat Anda lebih baik dan merupakan bagian dari proses. Jika Anda menginginkan tempat di mana Anda bisa mengatakan “tidak” (tentu saja dengan cara yang baik dan jelas) dengan orang-orang, HubSpot sedang membuka lowongan” lanjut Burke.

Hingga Senin malam, postingan Burke telah mendapatkan lebih dari 35.000 reaksi positif di Linkedin.

Mirip Hubspot, CEO startup CoderPad, Amanda Richardson, juga menggunakan pendekatan serupa untuk menggaet talenta baru mantan karyawan Twitter.

Richardson dilaporkan mengunggah surat terbuka untuk calon talenta baru di Twitter.

Dalam twitnya, Richarson menggambarkan pengambilalihan Twitter oleh Elon Musk adalah sebuah “shit show” (situasi kekacauan atau kontroversi) yang “sangat membuat frustrasi, tertekan, dan menurunkan motivasi”.

Richardson pun mempromosikan bahwa budaya kerja di CoderPad tidak seperti itu.

“Di CoderPad, kami yakin keahlian Anda menunjukkan segalanya. Bukan di mana Anda duduk. Bukan pula bila Anda tidur di tempat kerja. Bukan juga bekerja 7 hari seminggu selama 18 jam sehari,” tulis Richardson.

CEO perusahaan cloud dan perangkat lunak AS Calix, Michael Weening bahkan secara tersirat menyebut budaya kerja Twitter di bawah Elon Musk sebagai “toxic”.

Weening pun menjanjikan bahwa pegawai baru di perusahaannya tidak akan menemui budaya perkerjaan seperti itu, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Reuters, Rabu (23/11/2022).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!