Elon Musk Sebut Indonesia dalam Rapat Twitter, Soal Apa?

Elon Musk Sebut Indonesia dalam Rapat Twitter, Soal Apa?

tribunwarta.com – CEO SpaceX dan Tesla yang juga merupakan pemilik Twitter , yaitu Elon Musk kabarnya telah menggelar sebuah rapat ( meeting ) dengan sejumlah karyawan Twitter pekan ini.

Meeting itu kabarnya dihelat untuk membicarakan perekrutan karyawan baru, sebuah strategi yang dilakukan Musk usah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) alias layoff kepada ribuan karyawan Twitter sejak awal kepemimpinannya.

Menariknya, Musk konon menyebut nama ” Indonesia ” dalam meeting tersebut. Setidaknya begitu menurut sebuah rekaman meeting Musk dengan karyawan Twitter yang bocor dan tersebar di internet.

Dalam rekaman ini, Musk konon menyebut bahwa dia ingin membangun tim-tim teknisi yang terpusat (desentralisasi) di masing-masing wilayah operasional Twitter yang dianggap penting.

Menurut Musk, strategi ini bisa menjadi langkah yang bagus untuk masa depan perusahaan tersebut. Adapun wilayah-wilayah yang membutuhkan tim-tim teknisi terpusat yang berdiri sendiri, lanjut Musk, mencakup Indonesia, India, Jepang, dan Brasil.

Musk menambahkan bahwa strategi desentralisasi tim diperlukan karena Twitter selama ini dianggap sebagai perusahaan yang fokus di wilayah Amerika Serikat (AS).

Padahal jika melihat Jepang, negara tersebut, kata Musk, memiliki jumlah pengguna aktif harian Twitter yang nyaris sama dengan AS, terlepas dari fakta bahwa jumlah penduduk Jepang yang lebih sedikit dari AS.

Dengan kata lain, Musk berpendapat bahwa penting bagi Twitter untuk melakukan desentralisasi tim di beberapa wilayah regional yang memiliki penggunaan tinggi, mungkin seperti Indonesia, India, Jepang, dan Brasil tadi.

Sebelumnya, Musk juga sempat menyebut nama Indonesia pada pekan lalu. Masih melibatkan Twitter, dia mengatakan dalam bahwa Twitter di Indonesia memang sangat lambat untuk dibuka, terutama jika diakses dari ponsel Android.

“Twitter sangat lambat di India, Indonesia, dan banyak negara lainnya. Ini adalah fakta, bukan ‘klaim’,” tulis Musk di Twitter melalui akun dengan handle @elonmusk pekan lalu.

Menurut dia, pengguna di negara-negara itu biasanya membutuhkan waktu sekitar 10-15 detik supaya kegiatan pemuatan ulang (refresh) timeline Twitter berjalan dengan lancar.

Musk melanjutkan bahwa hal ini bisa terjadi lantaran ada banyak proses yang dilakukan sistem Twitter supaya pengguna bisa melihat konten-konten baru di timeline mereka.

Selain itu, server Twtitter yang menopang proses sistem tersebut, lanjut Musk, juga memang sedang lambat.

Desentralisasi tim bakal rekrut karyawan baru

Kembali lagi ke pembentukan tim-tim teknisi di masing-masing wilayah yang dianggap Musk penting tadi, tentunya akan ada beberapa karyawan baru yang bakal direkrut Twitter.

Twitter belum mengumbar apa kriteria karyawan yang ingin direkrut. Namun menurut Musk, saat ini perusahaan berlogo burung Larry Bird tersebut memiliki prioritas untuk merekrut orang-orang yang pandai merancang perangkat lunak (software).

Pasalnya, Musk menyebut bahwa ada banyak hal yang mesti dirombak di Twitter dan harus dibuat ulang.

Hal ini harus dilakukan dalam rangka melancarkan revolusi Twitter yang dia sebut sebagai “Twitter 2.0 – an Elon Company”, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari TheVerge, Rabu (23/11/2022).

Seiring dengan revolusi ini, Musk juga mengatakan bahwa Twitter membutuhkan orang-orang atau karyawan-karyawan yang memiliki pandangan dan budaya bervariasi supaya bisa maju.

Dalam proses revolusi tersebut, Musk tak menampik bahwa perusahaan yang dia miliki ini akan membuat banyak kesalahan. Namun di saat yang sama, Twitter, menurut Musk, juga bakal memiliki perkembangan yang stabil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!