Semerbak aroma teh China warnai kegiatan sehari-hari warga Maroko

Semerbak aroma teh China warnai kegiatan sehari-hari warga Maroko

tribunwarta.com – Alami Hassan, seorang staf resepsionis di sebuah hotel di Rabat, ibu kota Maroko, mengeluarkan satu set perlengkapan minum teh berlapis perak dari bawah meja.

Setiap pagi, hal pertama dalam agendanya adalah membuat satu poci teh yang pekat, dan kembali mengisi teko tersebut dengan air sepanjang hari.

“Warga Maroko adalah pecinta berat minum teh,” ujar Hassan kepada Xinhua, seraya menambahkan bahwa dirinya menyegarkan diri dengan menyeruput teh setelah menerima tamu.

Hassan merupakan satu dari sekian banyak pecinta teh di negara Afrika Utara itu, yang memiliki rata-rata konsumsi teh per kapita per tahun mencapai lebih dari 4 kilogram.

Sebagian besar teh yang dikonsumsi di negara itu berasal dari China. Pada 2021, China mengekspor sekitar 369.000 ton teh, atau setidaknya seperempat dari pasokan global, dengan Maroko menempati peringkat pertama di antara negara-negara importir, menurut perusahaan statistik internet Statista.

Di pasar swalayan dan toko setempat, banyak karton teh dibubuhi merek dalam bahasa Mandarin atau diberi label dalam bahasa setempat, yaitu bahasa Arab dan Prancis, untuk mengindikasikan produk-produk tersebut berasal dari China.

Pada Selasa (29/11), Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) menambahkan “Teknik pengolahan teh tradisional dan praktik sosial terkait di China” ke dalam Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Umat Manusia.

Keputusan tersebut diumumkan dalam sesi ke-17 Komite Antarpemerintah UNESCO untuk Perlindungan Warisan Budaya Takbenda yang diadakan di Rabat mulai 28 November hingga 3 Desember.

Hassan merasa senang saat pencalonan itu disahkan di Maroko, negara konsumen teh utama China.

“Semua warga Maroko meminum teh China. Kami merasa sangat senang bahwa pembuatan teh tradisional China telah dipilih sebagai warisan budaya takbenda,” ujarnya.

“Pemerintah China siap menghormati komitmennya terhadap konservasi, bekerja sama dengan UNESCO dan negara-negara lain untuk meneruskan keterampilan membuat teh, dan mempromosikan budaya teh,” ujar Hu, seraya menambahkan bahwa China ingin mempromosikan pertukaran terkait teh dengan negara lain.

Hassan mengatakan dirinya siap untuk belajar lebih banyak tentang budaya teh China.

“Demikian pula, warga China juga dipersilakan untuk belajar lebih banyak tentang budaya teh Maroko,” tambah Hassan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!