Awas Kantong Bolong! Rupiah Jeblok, Harga Barang Makin Mahal

Awas Kantong Bolong! Rupiah Jeblok, Harga Barang Makin Mahal

tribunwarta.com – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terus terjadi membuat harga-harga sejumlah barang semakin mahal di tanah air.

“Komoditas yang masih bergantung pada pasokan impor yang tentunya akan berpengaruh,” ungkap Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa (Disjas) BPS, Setianto dalam konferensi pers, Kamis (1/11/2022)

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inflasi pada November 2022 mencapai 5,42%, lebih rendah dari periode sebelumnya yang sebesar 5,71%

Secara tahun kalender inflasi mencapai 4,82% dan dibandingkan dengan bulan sebelumnya 0,09%

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira mengatakan, kenaikan harga ini salah satunya sudah semakin terasa ke sektor energi, salah satunya minyak mentah.

“Dampaknya sudah mulai terasa ke inflasi terutama di sektor energi karena pemicu naiknya harga BBM bukan hanya harga minyak mentah tapi juga selisih kurs yang melebar dari asumsi,” kata Bhima kepada CNBC Indonesia pada kesempatan yang berbeda.

PT Pertamina (Persero) pun telah resmi menyesuaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) khususnya harga BBM jenis non subsidi di seluruh SPBU Pertamina yang ada di Indonesia. Penyesuaian harga BBM Non Subsidi ini resmi berlaku naik mulai 1 Desember 2022.

Sebagai contoh harga BBM non subsidi yang berlaku di DKI Jakarta, untuk harga BBM jenis Pertamax Turbo menjadi Rp 15.200 per liter dari sebelumnya Rp 14.300 per liter. Adapun harga BBM jenis Dexlite menjadi Rp 18.300 per liter dari sebelumya Rp 18.000 per liter dan untuk BBM Pertamax Dex menjadi Rp 18.800 per liter dari sebelumnya Rp 18.550 per liter.

Bhima berujar, selain harga BBM sebetulnya harga pangan juga terbilang mulai terkerek naik akibat pelemahan kurs itu. Ia mencontohkan ini terjadi untuk komoditas seperti beras sebagaimana yang diakui pemerintah harganya mulai naik.

Secara umum, Bhima mengakui, dj sektor pangan sebetulnya memiliki jeda antara impor dengan harga di tingkat konsumen, tapi tidak bisa dihindari imported inflation akan makin terasa terlebih cadangan beras turun dan pemerintah akan impor beras.

“Masalah beras itu sudah harga di pasar internasional naik karena pupuk, biaya angkutan dan impor naik karena pelemahan kurs rupiah. Daging, kedelai, garam, gula dan gandum perlu jadi perhatian utama karena sebagian besar ketergantungan impornya tinggi,” tutur Bhima.

Melansir data Refinitiv, rupiah kemarin membuka perdagangan dengan menguat 0,13% di Rp 15.720/US$. Setelahnya rupiah sempat berbalik melemah ke Rp 15.748/US$. Di penutupan perdagangan, rupiah berada di Rp 15.730/US$, menguat tipis 0,06% di pasar spot.

Sementara itu, berdasarkan data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, rupiah kemarin sore berada di level Rp 15.742 per dolar AS. Semakin melemah dari hari sebelumnya di level Rp 15.737 per dolar AS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!