Pakar Yakin Indonesia Siap Tangani Cacar Monyet

Pakar Yakin Indonesia Siap Tangani Cacar Monyet

Konfirmasi mengenai status negatif pada pasien terduga cacar monyet atau monkeypox disampaikan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo di Boyolali, Jawa Tengah, Kamis (4/8).

“Kemarin terindikasi satu, tadi hasil PCR-nya negatif,” ujar Ganjar.

Sebelumnya pernah ditemukan kasus serupa di Jawa Tengah. Seorang pasien memiliki gejala mirip cacar monyet, tetapi dinyatakan negatif setelah dilakukan pemeriksaan. Dengan demikian, ini adalah kasus kedua terduga yang berakhir dengan negatif di provinsi ini.

Pakar Yakin Indonesia Siap Tangani Cacar Monyet

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo (Facebook: Humas Jawa Tengah).

Meski begitu, Jawa Tengah tetap memberlakukan kesiagaan tinggi untuk menghadapi potensi penyebaran cacar monyet. Ganjar juga meminta masyarakat waspada, tetapi tidak panik menghadapi perkembangan ini. Warga yang merasa tidak sehat, sesegera mungkin memeriksakan diri di fasilitas kesehatan, untuk memperkuat pengawasan. Sedangkan pemerintah pusat diminta untuk memperketat pintu masuk ke Indonesia.

Contoh ruam dan lesi yang disebabkan oleh virus monkeypox terlihat pada gambar handout yang diperoleh dari situs resmi CDC pada 1 Juli 2022. (Foto: via Reuters)

Contoh ruam dan lesi yang disebabkan oleh virus monkeypox terlihat pada gambar handout yang diperoleh dari situs resmi CDC pada 1 Juli 2022. (Foto: via Reuters)

“Saya berharap karena ini tidak dari Indonesia ya, tetap saja pintu-pintu masuk Indonesia harus tetap ketat. Kita minta nanti Kementerian Kesehatan memberikan briefing kepada penjaga pintu masuk untuk bisa mengecek menggunakan peralatan sehingga indikasi awalnya diketahui,” tambahnya.

Dinas Kesehatan Jawa Tengah juga memastikan bahwa kasus terduga cacar monyet ini ditangani dengan intensif. Pasien menjalani isolasi, dan keluarganya juga berada dalam pantauan intensif pihak rumah sakit.

Tidak Perlu Takut

Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Prof. Dr. drh. Wayan Tunas Artama, meminta masyarakat bersikap tenang.

Prof. Dr. drh. Wayan Tunas Artama. (Foto: Courtesy/UGM)

Prof. Dr. drh. Wayan Tunas Artama. (Foto: Courtesy/UGM)

“Penyakit ini sebenarnya tidak perlu ditakutkan, tetapi kita harus bisa mencegahnya. Karena ini merupakan self-limiting disease, jadi bisa sembuh sendiri. Yang penting faktor risikonya dihindari,” kata Wayan kepada VOA, Kamis (4/8).

Wayan juga menyambut baik upaya pemerintah yang langsung melakukan isolasi terhadap pasien terduga cacar monyet. Secara umum, gejala yang muncul relatif ringan sehingga kurang mendapat perhatian dari petugas kesehatan. Karena itulah, perlu dilakukan antisipasi lebih untuk mengamati kasusnya lebih lanjut.

“Kita harus aware dengan kejadian ini, sehingga perlu dilakukan contact tracing seperti pada kasus COVID-19, melacak siapa saja yang sudah kontak dengan penderita, dan melakukan isolasi,” ujarnya lagi.

Sepotong jaringan kulit, diambil dari lesi pada kulit monyet, yang telah terinfeksi virus cacar monyet, terlihat pada pembesaran 50X pada hari keempat perkembangan ruam pada 1968. (Foto: via Reuters)

Sepotong jaringan kulit, diambil dari lesi pada kulit monyet, yang telah terinfeksi virus cacar monyet, terlihat pada pembesaran 50X pada hari keempat perkembangan ruam pada 1968. (Foto: via Reuters)

Langkah kedua yang harus dilakukan pemerintah secepatnya adalah menyiapkan laboratorium dan peralatan diagnosa, agar lebih cepat mendeteksi kasus cacar monyet. Dengan deteksi cepat, penyebaran dapat lebih cepat ditanggulangi sebelum menjadi wabah.

“Kita punya alat cukup dan pengalaman dari penanganan COVID-19. Yang paling penting adalah clinical management, jadi kalau orang sudah terinfeksi, dinyatakan confirmed harus dilakukan isolasi. Isolasi itu yang penting supaya tidak menyebarkan ke orang lain,” papar Wayan.

Kontak langsung kepada pasien terduga dan benda-benda yang dipakainya harus dihindari. Pakaian, tempat tidur dan perlengkapannya, alat medis di sekitar pasien harus dikelola dengan cermat. Kehati-hatian juga harus diterapkan oleh tenaga medis yang meneriksa pasien. Dalam kasus awal, gejalanya sangat ringan sehingga bisa saja tidak dianggap sebagai cacar monyet. Namun sebenarnya, pasien tersebut sudah membawa virus.

Seperti diminta Ganjar, Wayan juga menyarankan pemerintah memperketat pintu gerbang dari luar negeri. Petugas bandara, khususnya dokter, harus menerapkan upaya lebih. Sebaiknya, kata Wayan, pelintas batas dari negara-negara yang sudah terkonfirmasi memiliki kasus cacar monyet, menjalani pemeriksaan lebih seksama di bandara atau pelabuhan.

Wabah cacar monyet yang terjadi di Republik Demokratik Kongo pada 1997. (Foto: via AP)

Wabah cacar monyet yang terjadi di Republik Demokratik Kongo pada 1997. (Foto: via AP)

Wayan menambahkan, masa inkubasi cacar monyet umumnya 6-12 hari, tetapi kondisi fisik seseorang juga berpengaruh, sehingga bisa menjadi 21 hari. Saat ini, sudah ditemukan kasus di 83 negara, dengan 60 negara endemik. Cacar monyet memang sudah ditemukan di Afrika sejak 1970.

Penularan cacar monyet dari hewan ke manusia bisa terjadi di saat menangkap, memproses, dan mengonsumsi daging satwa liar. Bisa juga melalui kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, atau lesi dari hewan terinfeksi seperti mamalia kecil, termasuk rodensia (tikus, tupai) dan primata non-manusia (monyet, kera).

“Penularan secara kontak langsung ini dapat juga terjadi antarhewan. Penularan cacar monyet dari manusia ke manusia utamanya melalui droplet pernafasan yang secara umum memerlukan kontak erat yang cukup lama,” ujar Wayan.

Gejala cacar monyet pada manusia sangat mirip dengan penyakit cacar, yaitu demam lebih dari 38,5°C, lemah, menggigil dengan atau tanpa keringat, nyeri tenggorokan dan batuk, pegal-pegal, pembengkakan kelenjar limfa, dan sakit kepala. Gejala-gejala tersebut akan diikuti dengan kemunculan ruam makular-papular berbatas jelas, vesikular, pustular, hingga lesi berkeropeng.

Lesi bertahan sekitar 1 sampai 3 hari pada setiap tahap dan berprogres secara bersamaan. Area kemunculan lesi adalah wajah (98 persen), telapak kaki dan tangan (95 persen), membrane mukosa mulut (70 persen), genital (28 persen), dan konjungtiva (20 persen).

Gambar berwarna yang diambil dengan mikroskop elektron pemindaian yang menunjukkan partikel cacar monyet, berwarna oranye, ditemukan di dalam sel yang terinfeksi (coklat). (Foto: via AP)

Gambar berwarna yang diambil dengan mikroskop elektron pemindaian yang menunjukkan partikel cacar monyet, berwarna oranye, ditemukan di dalam sel yang terinfeksi (coklat). (Foto: via AP)

Kementerian Kesehatan sendiri menyatakan, telah melakukan upaya meskipun mitigasi untuk mengantisipasi masuk dan menyebarnya cacar monyet di Indonesia. Di antara yang dilakukan adalah memperkuat pemeriksaan di pintu masuk ke negara baik darat, laut dan udara. Selain itu juga meminta seluruh dinas kesehatan di provinsi dan kabupaten/kota, KKP, laboratorium, rumah sakit, puskesmas dan fasyankes lainnya untuk meningkatkan kewaspadaan.

Kemenkes juga telah menyiapkan dua laboratorium rujukan pemeriksa cacar monyet di Indonesia, yaitu Pusat Studi Satwa Primata LPPM IPB dan Laboratorium Penelitian Penyakit Infeksi Prof. Sri Oemiyati BKPK. [ns/ah]

Artikel ini bersumber dari www.voaindonesia.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *