Menyelisik Kondisi Harimau Sumatera di Riau dan Sumbar

Menyelisik Kondisi Harimau Sumatera di Riau dan Sumbar

Populasi harimau Sumatra di Indonesia kini hanya sekitar 600 ekor yang tersebar di seantero pulau tersebut. Harimau Sumatra pun masuk ke dalam daftar merah Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN). Di Bumi Andalas, harimau Sumatra paling banyak ditemukan di Provinsi Riau. Sepertiga dari populasi harimau Sumatra berada di Riau.

Kendati sepertiga populasi harimau Sumatra berada di Riau. Namun, rintangan harimau Sumatra di Riau untuk bertahan hidup juga besar. Satwa yang dilindungi itu kini dihadapkan dengan sejumlah tantangan, mulai dari ancaman perburuan, kehilangan pakan atau satwa buruan, dan yang paling kentara adalah mulai tergerusnya habitat akibat deforestasi.

Menyelisik Kondisi Harimau Sumatera di Riau dan Sumbar

Seekor harimau Sumatera mengaum di kompleks Pusat Penyelamatan Harimau Sumatera, di dalam Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC), dekat Bandar Lampung, 25 Februari 2013. (Foto: Reuters)

Menurut Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, harimau Sumatra di Riau terbagi dua secara tipologi, yakni yang hidup di dataran rendah tanah mineral dan di daerah gambut. Hal itu membuat adanya perbedaan fisik harimau Sumatra di Riau.

“Dari kondisi harimau itu kami mencoba membuat suatu delineasi kantong-kantong harimau Sumatra seperti di dataran rendah tanah mineral itu berada di Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Baling dan Tahura Sultan Syarif Hasim. Kemudian, untuk harimau yang ada di daerah rawa gambut itu ada di Semenanjung Kampar, Senepis, dan Pantai Timur Sumatra,” kata Kabid Teknis BBKSDA Riau, Mahfud, Jumat (29/7).

Berdasarkan catatan BBKSDA Riau, salah satu tantangan harimau Sumatra adalah konflik dengan manusia. Sejak tahun 2018 terdapat sebanyak 80 konflik antara harimau Sumatra dengan manusia yang terjadi di Bumi Lancang Kuning atau Riau. Pada tahun 2018, ada 12 kali konflik antara harimau Sumatra dengan manusia. Lalu, tahun 2019 ada 22 kali konflik. Kemudian, di tahun 2020 ada 22 konflik. Selanjutnya di 2021 ada 14 konflik dan tahun 2022 ada 10 konflik.

“Yang tertinggi adalah di Kabupaten Indragiri Hilir dan Siak,” sebut Mahfud.

Mahfud menjelaskan adanya okupansi lahan terhadap kantong-kantong harimau Sumatera membuat satwa endemik itu hampir seluruhnya berada di luar kawasan konservasi. Harimau-harimau itu mendiami kawasan hutan produksi dan hutan lindung yang kini banyak telah terdegradasi menjadi perkebunan sawit. Tak ayal hal itu menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya konflik harimau Sumatera dengan manusia.

Namun BBKSDA Riau menilai itu bukan sebuah suatu permasalahan, tapi tantangan yang harus dihadapi.

Harimau Sumatera di Taman Margasatwa Ragunan, DKI Jakarta, yang sempat terinfeksi COVID-19, Minggu, 1 Agustus 2021. (Foto: Humas Pemprov DKI Jakarta)

Harimau Sumatera di Taman Margasatwa Ragunan, DKI Jakarta, yang sempat terinfeksi COVID-19, Minggu, 1 Agustus 2021. (Foto: Humas Pemprov DKI Jakarta)

“Itu akan terjadi setiap tahun karena ada perubahan dari habitat dan koridor kantong-kantong yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan harimau Sumatrea. Tantangan ke depan memang bagi BBKSDA Riau adalah bagaimana merangkul semua pihak agar mempunyai visi dan misi yang sama untuk menyelamatkan harimau Sumatera,” jelas Mahfud.

Kini, pergeseran dari sisi budaya dari masyarakat Riau juga memengaruhi keberadaan harimau Sumatra di alam liar. Masyarakat lokal yang kerap menyebut harimau dengan panggilan ‘Datuk’ selalu mengedepankan kearifan lokal dan menghargai keberadaan satwa dilindungi itu sejak dahulu. Namun, akibat banyaknya masyarakat pendatang harimau-harimau itu malah dianggap sebagai sebuah masalah bahkan ancaman.

“Ada pergeseran pemahaman terhadap keberadaan harimau Sumatera yang pada saat ini lebih banyak di mata mereka bahwa keberadaan harimau Sumatera merupakan permasalahan,” ungkap Mahfud.

Konflik yang terjadi tentu telah merugikan habitat dan harimau itu sendiri. Dalam catatan BBKSDA Riau, harimau kerap menjadi korban jerat dan tak jarang berujung dengan kematian. Harimau Sumatera betina yang dalam keadaan hamil terpaksa meregang nyawa akibat terkena jerat pada tahun 2018. Dan peristiwa itu kejadian yang paling membekas karena harimau itu mati bersama dua janin yang dikandungnya.

“Kemudian ada beberapa harimau juga yang bisa kami selamatkan dan bisa dilepasliarkan. Tentunya ini atas kerja sama dengan pihak-pihak lain,” tandas Mahfud.

Usai dari wilayah Bumi Lancang Kuning, mari bergeser ke daerah Sumatera Barat atau Ranah Minang untuk melihat kondisi Harimau Sumatra. Kehidupan harimau Sumatera di Sumatra Barat (Sumbar) bisa dikatakan sedikit lebih mujur dibandingkan di Riau.

Harimau Sumatera yang siap dilepasliarkan di ekosistem hutan Leuser di Provinsi Aceh, 19 Juni 2020. (Foto: Chaideer Mahyuddin/AFP)

Harimau Sumatera yang siap dilepasliarkan di ekosistem hutan Leuser di Provinsi Aceh, 19 Juni 2020. (Foto: Chaideer Mahyuddin/AFP)

Harimau Sumatera di Sumbar kerap terhindar dari ancaman perburuan menggunakan jerat atau racun. Namun, harimau Sumatera di wilaha tersebut malah kerap terancam dengan keterbatasan kehabisan pangan atau satwa buruan seperti babi hutan. Pasalnya, masyarakat Sumbar kerap berburu babi hutan dengan menggunakan anjing.

“Di sini perburuannya tradisional tujuan sebenarnya babi hutan. Tapi dengan adanya babi hutan yang berkurang maka jumlah pakan harimau Sumatera di Sumbar tentunya juga kurang,” kata Kepala BKSDA Sumbar, Ardi Andono.

Ardi mengakatan, ada satu hal yang wajib ditiru oleh masyarakat dari provinsi lain yang wilayahnya terdapat harimau Sumatera. Masyarakat lokal di Sumbar yang berbatasan dengan koridor satwa dilindungi itu selalu membanggakan dan menghormati kehadiran harimau di wilayahnya. Mereka kerap menyebut harimau dengan ‘Inyiak Balang’. Sebutan Inyiak Balang itu kerap disematkan kepada harimau karena dianggap sebagai penjaga wilayah masyarakat.

“Ini merupakan suatu hal ajaib dan sangat dibanggakan. Di mana masyarakat Minang beradaptasi dengan keadaaan adanya harimau secara turun temurun dan menganggap harimau sebagai Inyiak Balang,” ungkapnya.

Kendati demikian, konflik harimau dengan manusia tak dapat terhindarkan. Berdasarkan catatan BKSDA Sumbar konflik harimau dengan manusia dalam kurun waktu tiga tahun terakhir berjumlah 23 kali sejak tahun 2020 hingga 2022. Kemudian, evakuasi dan pelepasliaran terjasi sekali di Pasaman Barat pada tahun 2021

Dua bayi harimau sumatera berjenis kelamin jantan dan betina yang lahir di Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan (TMSBK) Bukittinggi, Sumatera Barat. (Foto: TMSBK Bukittinggi.)

Dua bayi harimau sumatera berjenis kelamin jantan dan betina yang lahir di Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan (TMSBK) Bukittinggi, Sumatera Barat. (Foto: TMSBK Bukittinggi.)

“Tahun (2022) ini sekali evakuasi, yaitu di Kabupaten Agam. Di situ paling banyak harimau dan masyarakatnya adaptif. Harimau 41 hari berada di dalam kampung itu tidak menimbulkan konflik yang sangat besar. Ketika kami evakuasi harimau masyarakatnya menangis seakan-akan Inyiak Balang atau penjaga kampungnya diambil oleh kami. Itu yang terjadi di Sumbar,” pungkas Ardi.

Keberlangsungan hidup harimau Sumatera di alam liar memerlukan perbaikan habitat dan koridor satwa dilindungi tersebut. Koridor harimau Sumatera di Bumi Andalas terbentang mulai dari Lampung, Taman Nasional Kerinci Seblat, hingga Aceh. Perbaikan habitat ini atau koridornya itu bukan hanya tentang kondisi tutupan lahannya saja, tapi termasuk di antaranya juga ketersediaan pakan harimau Sumatera. [aa/ah]

Artikel ini bersumber dari www.voaindonesia.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *