Membangun Kembali Intisari “Kebudayaan Bali” yang Sempat Hilang

Membangun Kembali Intisari “Kebudayaan Bali” yang Sempat Hilang

Selama hampir sebulan, sejak 12 Juni hingga 10 Juli di Pulau Bali diadakan perhelatan budaya tahunan, “Pesta Kesenian Bali” (PKB) dengan menampilkan serangkaian acara, termasuk pawai, lomba, lokakarya, sarasehan, pagelaran dan penghargaan bagi para pengabdi seni. Salah satu acara yang menonjol adalah Perayaan Budaya Dunia di Bali (World Culture Celebration/BWCC) yang diramaikan dengan berbagai program yang melibatkan peserta dari dalam dan luar negeri, termasuk dari Amerika Serikat.

Mengacu pada visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, yang intinya adalah “membangun kembali intisari kebudayaan Bali yang sempat hilang,” Provinsi Bali senantiasa giat menyelenggarakan berbagai peristiwa budaya berskala regional, nasional, maupun internasional.

Dihubungi VOA, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha menyatakan bahwa semua acara itu merupakan implementasi dari peraturan daerah, yang semuanya mengarah pada inti pembangunan tiga unsur: alam Bali beserta isinya, manusia Bali, dan kebudayaan Bali.

Membangun Kembali Intisari “Kebudayaan Bali” yang Sempat Hilang

Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali (foto: courtesy).

“Semenjak gubernur baru Wayan Koster dan (wagub) Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati kami memiliki visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali…Dalam bidang kebudayaan Bali, pak gubernur memulainya dengan membuat sebuah regulasi yaitu Perda nomor 4 tahun 2020 tentang penguatan dan pemajuan budaya Bali. Kata kuncinya kebudayaan Bali yang sudah ada itu dikuatkan, kemudian juga dimajukan,” ungkapnya.

Berbagai kegiatan apresiasi budaya yang dirancang termasuk penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali selama sebulan penuh pada Februari, dan pelestarian perhelatan tahunan Pesta Kesenian Bali yang merupakan festival seni tradisi selama sebulan penuh pada Juni-Juli.

“Itu khusus untuk seni-seni tradisi yang kita kuatkan, yang kita lestarikan dan yang kita juga berikan kesempatan untuk berinovasi,” imbuhnya.

Sugiartha menambahkan bahwa pada bulan Oktober pemprov Bali juga menyelenggarakan festival seni Bali Jani, yakni festival seni modern, kontemporer, serta seni eksperimental. Dia menjelaskan bahwa festival itu “untuk memberikan kesempatan dan peluang kepada para generasi muda kita yang kreatif untuk menumbuhkan ide-ide terbarunya.”

Selain itu, ujar Sugiartha, pemprov Bali juga memiliki agenda Jantra Tradisi Bali, semacam pekan kebudayaan daerah untuk memperkuat kearifan lokal, permainan tradisional, pengobatan tradisional, serta pengetahuan tradisional yang sempat hilang akan tetapi di dalamnya terkandung nilai-nilai budayayang bisa diangkat kembali.

Terakhir, imbuh Sugiartha, adalah pagelaran yang disebut sebagai Bali World Culture Celebration, perayaan budaya dunia di Bali. Melalui kegiatan BWCC ini “kita juga ingin melihat, kalau kita punya kearifan, katanya. “Kalau kita punya kekuatan, di dunia luar sana pasti juga ada kekuatan yang patut kita syukuri, yang patut kita ajak berdampingan dengan kebudayaan kita sehingga nantinya memperkaya kebudayaan kita,” jelas kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali itu.

Parade seni pada acara "Pesta Kesenian Bali" tahun sebelumnya (foto: dok).

Parade seni pada acara “Pesta Kesenian Bali” tahun sebelumnya (foto: dok).

“Tema untuk BWCC tahun 2022 ini kita awali dengan gamelan dulu, karena gamelan itu, gamelan Bali, gamelan Jawa, gamelan Sunda, saya kira semua gamelan kita Indonesia itu sudah mendunia,” ungkapnya, seraya menambahkan, “Artinya begini, meskipun kita telah memiliki tradisi yang kuat, kita juga tidak menafikan bahwa kebudayaan Bali yang maju itu juga disebabkan (oleh kenyataan) bahwa Bali sangat terbuka menerima kebudayaan-kebudayaan asing yang masuk ke Bali. Akan tetapi, dengan daya kreatif kita, semua kebudayaan asing yang masuk itu kita filter, kemudian kita olah dengan daya kreativitas sehingga itu menjadi milik kita, tidak ditelan mentah-mentah. Itulah konsep bagaimana kita terbuka dalam menerima kebudayaan asing,” tutur Sugiartha.

Oleh sebab itu, diundanglah para seniman, pakar dan praktisi seni dari berbagai negara untuk ambil bagian dalam dialog budaya dengan wadah BWCC pertama yang diselenggarakan secara daring dan menjadi bagian dari Pesta Kesenian Bali ke-44 tahun 2022. Para peserta dialog termasuk dari Indonesia sendiri, Canada, Jepang, Taiwan, dan Amerika Serikat.

Tiga pakar dan seniman gamelan dari Amerika diundang untuk berpartisipasi dalam acara BWCC pertama ini, dan salah satunya adalah Jody Diamond, pakar dan musisi/komposer yang pernah menjadi prima dona musisi gamelan dan yang mulai belajar menjadi pengrawit gamelan Jawa ketika kuliah di California Institute of the Arts pada tahun 1970.

Jody Diamond, Composer, Performer and Scholar; Director and Founder, American Gamelan Institute for Music and Education (foto: courtesy).

Jody Diamond, Composer, Performer and Scholar; Director and Founder, American Gamelan Institute for Music and Education (foto: courtesy).

Berbicara dengan VOA, Jody Diamond, pendiri dan direktur Lembaga Gamelan Amerika (American Gamelan Institute/AGI) menyatakan kegembiraannya bisa ikut berkontribusi dengan terlibat dalam dialog untuk menyoroti sejarah kehadiran gamelan Bali di panggung dunia, dinamika kontemporer gamelan Bali lintas negara, serta prospeknya pada masa mendatang.

Dalam presentasinya, Jody di antaranya mengungkapkan pendapatnya mengenai “jiwa” yang dibawa bersama gamelan ke luar negeri. Pendapat itu, katanya, didasari pengalaman sebagai seniman dan pemerhati gamelan yang telah lama mengabdikan diri untuk “mengamati apa yang terjadi dengan gamelan ketika diboyong ke tempat berbeda,” ujarnya.

Nah, menurut saya, pertama kali, kalau ada gamelan dari Bali atau dari mana saja di Indonesia dan dibawa ke negara mana saja – ada lebih dari 26 negara yang punya gamelan – maka tugas pertamanya adalah sebagai kendaraan kebudayaan. Orang di luar bisa tahu, ‘ini kebudayaan Indonesia.’ Lama kelamaan, pengalaman itu masuk jiwa orang yang main gamelan dan sesudah beberapa tahun mereka merasa ‘ini bukan kebudayaan asing, tetapi menjadi kebudayaan saya sendiri.’”

Workshop Pelatihan Tari Dan Gamelan Bali di KJRI New York (foto: ilustrasi).

Workshop Pelatihan Tari Dan Gamelan Bali di KJRI New York (foto: ilustrasi).

Menurut Jody, yang sering terjadi adalah orang yang main gamelan di luar (Indonesia), sering mendapat inspirasi untuk menjadi kreatif.

“Mereka memiliki kreativitas untuk membuat sesuatu yang baru, alat musik yang baru, komposisi yang baru, tarian yang baru, apa saja, walaupun mereka membuat sesuatu yang baru itu karena inspirasi dari gamelan. Artinya, pelajaran kehidupan yang ada di musik gamelan selalu ada, dibawa ke ide yang baru,” tambahnya.

Dengan mengutip seorang guru gamelannya, Jody menandaskan bahwa dalam pelajaran gamelan ada pelajaran kehidupan, tentang bagaimana menjadi orang baik yang bisa bekerja sama dengan orang lain, bisa mendengar orang lain, dan tidak ada orang yang lebih penting daripada orang lain. “Ini tidak hanya ilmu kebudayaan Indonesia, tetapi pelajaran yang diberikan sebagai hadiah dari Indonesia, dari gamelan kepada seluruh dunia,” ujarnya.

“Judul presentasi saya adalah sonik dan sosial, karena kedua unsur ini membentuk pengalaman gamelan di luar negeri. Ada dunia suara yang sama sekali baru dan juga ada pengalaman sosial, bagaimana kita bisa merasakan hubungan yang dekat sekali dengan teman-teman.”

Untuk mendukung pendapat itu, dalam presentasi, Jody menyodorkan empat contoh gamelan di luar negeri, masing-masing dari Argentina, Inggris, Spanyol, dan Amerika Serikat. Dia juga memberikan contoh bagaimana satu kelompok diaspora Indonesia di kota Philadelphia, Pennsylvania yang belajar gamelan dari seorang guru Amerika merasa bahwa belajar gamelan Bali tidak hanya menjadi obat rindu tanah air, tetapi juga menjadi perekat secara sosial walaupun mereka bukan orang Bali, tapi berasal dari Jawa, Sumatera, Sulawesi dan pulau-pulau lain. Gamelan memberi mereka rasa bangga sebagai keturunan Indonesia.

Tari Baris Bali diiringi Gamelan Bali pada "Pagelaran Indo Day" di San Francisco (Foto ilustrasi/ KJRI San Francisco)

Tari Baris Bali diiringi Gamelan Bali pada “Pagelaran Indo Day” di San Francisco (Foto ilustrasi/ KJRI San Francisco)

“Mereka bukan dari Bali, tapi dari Sumatera, dari Sulawesi, macam-macam, tapi mereka orang Indonesia yang sudah rindu pada tanah air. Gamelan Bali itu tidak mewakili hanya Bali, tetapi untuk mereka itu gamelan dari rumah, dari tempat yang tercinta. Menurut saya itu menjadi gamelan Nusantara,” kata Jody.

Menutup pembicaraan dengan VOA, kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Profesor I Gede Arya Sugiartha menandaskan bahwa tema BWCC tahun ini diawali dengan gamelan, dan tema-tema lain akan dipertimbangkan untuk acara serupa pada tahun-tahun mendatang.

“Oleh sebab itu, itulah yang ingin kita rayakan di BWCC yang pertama ini, di mana ada grup-grup gamelan, di mana saja gamelan Bali telah berkembang. Itu yang kita minta untuk tampil…. Ini yang ditonton oleh para generasi muda kita. Tiap hari saya undang para komposer muda, para pemain musik muda untuk mencermati apa yang telah terjadi di dunia luar. Jadi, yang sangat kreatif, yang ide-idenya brilian itu nanti bisa ditularkan kepada generasi kami di Bali sehingga pengembangan kebudayaan Bali ini benar-benar menjadi maju, selain juga dikuatkan tradisinya.” [lt/ab]

Artikel ini bersumber dari www.voaindonesia.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *