Gantikan Warga Yang Pergi dengan Buku Langka

Gantikan Warga Yang Pergi dengan Buku Langka

Koleksi 20 ribu buku Stevo Stepanovski di desa Babino, Makedonia Utara, telah diturunkan dari generasi ke generasi. Koleksi tersebut pertama kali diterima kakek buyut Stepanovski dari tentara Ottoman yang melewati daerah itu pada akhir abad ke-19.

Selain buku-buku sejarah dan novel dalam bahasa Makedonia, ada juga buku-buku tebal dalam bahasa Persia, Arab dan Turki selain sejumlah buku lainnya dalam bahasa Serbia-Kroasia.

Untuk melengkapi buku-buku itu, perpustakaan itu menyimpan foto-foto asli karya wartawan yang meliput Perang Dunia I, peta-peta antic, serta berbagai kamus dalam banyak bahasa di kawasan tersebut.

Stevo Stepanovski berpose di depan perpustakaannya di desa Babino di Makedonia barat, 11 Juli 2022. (Robert ATANASOVSKI / AFP)

Stevo Stepanovski berpose di depan perpustakaannya di desa Babino di Makedonia barat, 11 Juli 2022. (Robert ATANASOVSKI / AFP)

Stepanovski menjaga dengan cermat koleksi tersebut maupun rumah batu berusia ratusan tahun yang menyimpan buku-buku itu selama puluhan tahun. Ia secara rutin menyambut para tamu dengan menyajikan kopi dan minuman brandy buah buatan sendiri.

Kepada AFP, pensiunan berusia 72 tahun itu mengatakan, “Desa ini, bersama dengan Vladimirovo di daerah Berovo, dianggap sebagai salah satu desa paling terdidik di Makedonia. Ini disebut ‘ desa pencerahan.’ Menurut sejarahnya, praktis tidak ada rumah di desa ini yang tidak memiliki seorang guru.”

Selama bertahun-tahun, penduduk desa memanfaatkan perpustakaan darurat ini, menghasilkan warga yang sangat melek huruf dan sejumlah besar guru, kata Stepanovski.

Tetapi perpustakaan itu sendiri juga dipersalahkan sebagai sumber kehancuran desa tersebut. Pada tahun 1950-an, pemerintah meminta para guru di sana berpartisipasi dalam gerakan pemberantasan buta huruf nasional – praktis mengurangi sebagian besar penduduk desa itu.

Seperti banyak tempat miskin di kawasan tenggara Eropa, Makedonia Utara mengalami kemerosotan penduduk yang dipicu oleh populasi yang menua, tingkat kelahiran merosot dan migrasi massal yang membuat banyak desa di kawasan pedalaman itu kosong ditinggalkan warga.

Babino juga sangat terpukul oleh hal itu. Pernah dihuni lebih dari 800 warga, kini penduduk tetap desa itu hanya tiga orang.

Dan meskipun anak-anak Stepanovski yang telah dewasa akhirnya pindah ke tempat lain, ia bertekad untuk bertahan di sana bersama buku-bukunya.

Untuk menghabiskan waktu dan menyebarkan berita mengenai keberadaan perpustakaan itu, Stepanovski menerima antara 3.000 dan 3.500 pengunjung setiap tahun di sana.

Seorang pengunjung melihat-lihat sebuah buku di perpustakaan Stevo Stepanovski di desa Babino di Makedonia barat, 11 Juli 2022.(Robert ATANASOVSKI / AFP)

Seorang pengunjung melihat-lihat sebuah buku di perpustakaan Stevo Stepanovski di desa Babino di Makedonia barat, 11 Juli 2022.(Robert ATANASOVSKI / AFP)

Sebagian besar pengunjung berasal dari kota dan desa di dekatnya, atau dari negara-negara tetangga. Ia menambahkan, “Kami mencatat pengunjung dari Brasil, Puerto Rico, Mesir, Maroko, juga negara-negara Eropa, negara-negara Balkan dan Makedonia.” Di antara mereka, juga terdapat sejumlah peneliti dan cendekiawan sastra.

Goce Sekuloski, profesor musik di sebuah seminari di Skopje yang baru-baru ini mengunjungi Babino setelah mendengar keberadaan tempat ini dari teman-temannya, mengatakan, “Sewaktu melihat-lihat buku, saya terkejut melihat judul-judul yang hanya dapat ditemukan di sini, tetapi tidak dapat ditemukan di perpustakaan kota.”

Untuk menambah pengalaman para pengunjung, Stepanovski telah membangun sebuah amfiteater kecil tempat warga membaca maupun menggelar konser. Ia menawarkan pikiran yang tenang bagi orang-orang untuk datang, duduk dan menikmati suasana di sana. Kalau pengunjung ingin menemukan keajaiban buku, mereka dapat memperolehnya di tempat itu, lanjut Stepanovski.

Artikel ini bersumber dari www.voaindonesia.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *