Profil Yassine Bounou, Anak Profesor Kampus Ternama di Maroko

Profil Yassine Bounou, Anak Profesor Kampus Ternama di Maroko

tribunwarta.com – Kiprah Maroko di Piala Dunia 2022 di luar dugaan banyak orang. Sosok kunci yang menjadi perhatian tertuju pada sang kiper, Yassine Bounou, utamanya kala berhasil membuat lini depan Portugal tak berkutik dalam fase 8 besar, akhir pekan lalu.

Namun, tidak banyak yang tahu keahliaannya dalam menahan banyak peluang bukan sesuatu yang didapat dengan mudah. Dilansir dari Trenddetail, ayah Bounou adalah seorang profesor di Hassania School of Public Works, sekolah teknik paling prestisius di Maroko. Wajar jika ayahnya ingin Bounou fokus pada pendidikan.

Namun, kecintaan Bono terhadap sepak bola muncul sejak kecil, ia mulai bermain dengan teman-teman tetangganya di jalanan. Ayahnya pun memutuskan untuk mendaftarkan Bounou di Wydad Sports Club School di Casablanca, Maroko ketika ia berusia 8 tahun.

Lama-kelamaan, kecintaan sang anak pada sepakbola sudah bulat. Ayahnya pun luluh dan meminta Bounou total dalam kariernya. Ia lulus dalam semua kelompok umurn sampai dia mencapai tim utama.

Ketika Bono mencapai usia 18 tahun, klub Prancis OGC Nice menyatakan keinginannya untuk merekrut ke dalam skuadnya pada tahun 2009, tetapi tuntutan keuangan dari klub olahraga Wydad mencegahnya.

Pada musim 2009/2010, Bono bergabung dengan tim utama klub Maroko Wydad, saat berusia 19 tahun. Ia berstatus sebagai penjaga gawang kedua, di belakang Nader Lamyaghri, yang merupakan penjaga gawang pertama klub Casablanca saat itu. Bono tetap di bangku cadangan sepanjang musim.

Bounou memainkan pertandingan pertamanya dengan klub Atletik Wydad di depan 80.000 penggemar pada 12 November 2011, dalam pertandingan balasan untuk final Liga Champions CAF di Stade Rades, melawan Esperance Tunisia, setelah penjaga gawang utama tim, Lamyaghri cedera. Klub Esperance Tunisia berhasil merebut gelar setelah pertandingan berakhir, dengan skor 1-0.

Pada 21 November 2011, Bounou memainkan pertandingan pertamanya di kejuaraan liga profesional di Maroko melawan klub Hassani, dan kebobolan satu-satunya gol dalam pertandingan tersebut. Kemudian dia berpartisipasi dalam 8 pertandingan liga.

Pada 15 Juni 2012, Bounou menandatangani kontrak satu tahun dengan klub Spanyol Atletico Madrid, dengan nilai 360.000 euro, dengan opsi tambahan dua tahun, sebagai penjaga gawang ketiga di belakang Thibaut Courtois dan Daniel Aranzubia.

Kemudian dia pindah ke Girona FC pada 12 Juli 2016, ketika dia menandatangani kontrak 3 tahun, dan Bounou memainkan peran utama dalam kebangkitan klub ke divisi pertama La Liga, 87 tahun setelah didirikan.

Setelah berakhirnya kontrak Bounou dengan Girona pada 2019, ia dipinjamkan ke Sevilla selama satu musim dengan opsi pembelian kontrak pada 2 September 2019, untuk bermain sebagai kiper kedua tim setelah kiper Ceko Tomasz Vaclik.

Pada tanggal 4 September 2020, Seville membeli kontrak Bounou seharga 4 juta euro, kemudian kontrak diperpanjang hingga Juni 2025 dengan kenaikan gaji, setelah kenaikan performa bersama klub Andalusia. Bounou memainkan pertandingan resminya di Piala Super Eropa melawan FC Bayern Munich pada 24 September 2020, dan kebobolan dua gol, dan timnya kalah.

Pada Februari 2021, Bono masuk dalam sejarah klub Andalusia setelah mencatatkan clean sheet selama 528 menit di Liga Spanyol, melampaui rekor yang dipegang kiper Portugal Beto dengan 516 menit, selama musim 2014/2015.

Kini Ia dikenal sebagai salah satu kiper terbaik di pentas Piala Dunia 2022. Bagaimana tidak, ia mampu clean sheet atau nirbobol di pertandingan berat melawan tim-tim kuat seperti lawan Kroasia, Belgia, Spanyol, dan Portugal. Bounou hanya kebobolan sekali di fase grup itu pun dari gol bunuh diri kawannya saat melawan Kanada dengan skor 2-1.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!