Rekam Jejak Zomato, Aplikasi Pencari Restoran Populer yang Tutup di Indonesia

Rekam Jejak Zomato, Aplikasi Pencari Restoran Populer yang Tutup di Indonesia

tribunwarta.com – JAKARTA – Perusahaan Zomato kini menjadi perbincangan publik, usai Gunjan Patidar, salah satu sosok terpenting di platform itu mengundurkan diri dari perusahaan, Senin (2/1/2023).

Melansir dari Business Standard, Patidar Chief Technology Officer (CTO) bukan menjadi satu-satunya pendiri yang keluar dari perusahaan tersebut. Sebelumnya, Pankaj Chaddah telah keluar dari perusahaan pada tahun 2018.

Perusahaan yang berbasis di India tersebut hadir di Indonesia sejak tahun 2013. Layanan mereka sering digunakan untuk memberikan rekomendasi tempat makan atau restoran secara mendetail mengenai harga dan menu yang ditawarkan.

Sayangnya, Zomato akhirnya memutuskan hengkang dari Indonesia 2020 silam.

Berdasarkan laporan Tech Crunch, PHK dan penutupan kantor operasional Zomato tak lain disebabkan oleh pandemi Covid-19 yang turut melemahkan industri kuliner. Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi beban finansial perusahaan.

Tentu, sebagai platform yang sempat meramaikan industri kuliner, dalam perjalanannya, Zomato telah menjadi jembatan bagi pecinta kuliner untuk dapat menemukan akses informasi yang mudah, terjangkau, dan aman bagi mereka untuk mengetahui ulasan, rekomendasi dan rating terhadap berbagai restoran yang pernah didatangi.

Sementara itu, Zomato juga telah membantu restoran untuk tumbuh secara berkelanjutan, hal ini terpapar dari masukan dan saran yang diberikan pecinta kuliner kepada restoran mereka untuk menjadi lebih baik lagi secara kualitas makanan maupun layanan. Pasti, hal ini memberikan kenangan tersendiri bagi para penggunanya.

Lantas, seperti apa profil bisnis dan perkembangan bisnis ini sendiri? Berikut ulasan Bisnis selengkapnya.

Awal Berdirinya Zomato

Deepinder Goyal dan Pankaj Chaddah lulus dari IIT Delhi. Pada tahun 2008, mereka bekerja di Bain & Co di New Delhi. Di kantor mereka kala itu, mereka menjumpai banyak orang yang menunggu lama hanya untuk mendapatkan sekilas kartu menu. Setelah bertukar pikiran selama beberapa waktu, ide tentang Foodiebay muncul di benak mereka.

Mereka pun mulai mengerjakan proyek yang diberi nama Foodiebay tersebut agar konsumen dapat memindai menu restoran dan mempostingnya di situs web pribadi perusahaan. Dengan cepat, karyawan Bains mulai menggunakan situs web dan dengan demikian menghemat waktu mereka hingga akhirnya situs tersebut ramai dikunjungi.

Akhirnya, melihat respon pasar yang positif, membuat mereka memutuskan untuk memperluas situs web agar dapat diakses oleh semua orang. Dalam hitungan sembilan bulan, FoodieBay menjadi direktori restoran terbesar di Delhi, di mana layanannya telah diperluas ke wilayah Mumbai dan Kolkata.

Jumlah pelanggan yang menggunakan aplikasi tersebut terus meningkat setiap tahunnya. Foodiebay memperoleh popularitas besar karena memberikan layanan khusus kepada pelanggan.

Hal ini memungkinkan Goyal dan Chaddah untuk meningkatkan skala proyek tersebut ke tingkat internasional. Pada tahun 2010, Foodiebay melakukan re-branding dan secara resmi berubah nama menjadi ‘Zomato ‘.

Keberhasilan Zomato

Karena peningkatan jumlah pengguna, para pendiri memutuskan untuk memudahkan akses, maka layanan tersebut harus bisa diakses di seluler. Sayangnya, mereka tidak memiliki dana yang cukup. Saat itulah Sanjeev Bikhchandani dari Naukri.com tertarik.

Baginya, ide Zomato membuatnya terpesona dan dia menginvestasikan hingga US$1 juta atau setara dengan Rp15,5 miliar. Tahun berikutnya, investor yang sama memberi mereka dana besar sebesar US$3,5 juta atau setara dengan Rp54,5 miliar. Tahun depan, sejumlah besar US$10 juta atau setara dengan Rp155,8 miliar dibanjiri dari Info Edge.

Perusahaan dengan cepat naik ke kesuksesan dan mulai berkembang. Pada tahun 2012, Zomato memperluas layanannya ke Sri Lanka, UEA, Qatar, Afrika Selatan, Inggris, dan Filipina. Pada tahun 2013, kembali memperluas ke Indonesia, Selandia Baru, Turki, dan Brasil.

Pada tahun 2014, Zomato mengakuisisi Gastronauci, layanan pencarian restoran Polandia, dan Cibando, pencari restoran Italia. Tahun berikutnya, Zomato melakukan akuisisi terbesarnya, yaitu platform reservasi online yang berbasis di AS NexTable.

Namun, seperti startup lainnya, Zomato juga menghadapi rintangan dalam perjalanannya menuju puncak.

Tantangan yang dihadapi oleh Zomato

Di tahun 2015, Zomato berjuang dengan pendapatan yang turun dengan melakukan PHK besar-besaran.

Namun, dengan mengakuisisi MapleOS, menjadikan perusahaan itu memungkinkan mereka memperluas direktori, basis data, dan operasinya, serta menambahkan reservasi online dan pembayaran tagihan seluler ke portofolio layanannya.

Setelah tahun 2016 berlalu, perusahaan akhirnya memutuskan untuk memulai kembali operasinya.

Rintangan besar lainnya yang dihadapi Zomato adalah menemukan cara untuk mencakup semua restoran di semua area di semua kota besar. Kerumitan ini hadir pada tahap awal tetapi para pendiri bersama dengan timnya menemukan solusi untuk masalah ini.

Total Investasi Zomato

Melansir dari The Indian Express, terkait totalan pendanaan, Zomato telah mengumpulkan sekitar US$16,7 juta atau setara dengan Rp260 miliar dari Info Edge, yang memberi Info Edge India 57,9 persen saham di Zomato. Lalu, pada November 2013, kembali mengumpulkan US$37 juta atau setara dengan Rp576 miliar dari Sequoia Capital dan Info Edge India.

Investasi terbaru yang didapatkan Zomato adalah sebesar US$62 juta atau setara dengan Rp966 miliar dari Temasek dan US$52 juta atau setara dengan Rp810 miliar dari Kora, sebuah perusahaan yang berbasis di AS.

Terakhir, pada tahun 2021, Zomato mengumpulkan US$250 juta atau Rp3,8 triliun dari 5 investor.

Bahkan, meski perusahaan tersebut telah menghentikan pengoperasiannya di Indonesia. Namun, disebutkan bahwa Zomato tetap berkembang dengan pesat dan sempat mengajukan dokumen IPO di Bursa Mumbai dengan target dana hingga 82,5 miliar rupee atau setara US$ 1,1 miliar atau setara dengan Rp17 triliun.

Nilai tersebut menurut Dealogic akan menjadi IPO terbesar India sepanjang tahun 2021.

Sebagai informasi, sejauh ini hanya segelintir perusahaan teknologi India yang tercatat di bursa saham selama dua dekade terakhir. Salah satunya, Flipkart milik Walmart (WMT) yang menjadi satu-satunya unicorn teknologi India yang telah diakuisisi dengan nilai lebih dari US$1 miliar. Selain itu, tidak ada startup teknologi bernilai lebih dari US$1 miliar yang go public.

Berdasarkan data CB Insights, valuasi Zomato terakhir bernilai US$5,4 miliar atau Rp84 triliun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *