Rastina Anggraeni, Bertekad Perluas dan Perkuat Brand Relations Len Industri

Rastina Anggraeni, Bertekad Perluas dan Perkuat Brand Relations Len Industri

Rastina Anggraeni, Bertekad Perluas dan Perkuat Brand Relations Len Industri

Menjadi GM Human Capital, Organization, and Culture Development PT Len Industri (Persero) sejak September 2021, karier Rastina Anggraeni sebelumnya tidaklah serta-merta terbuka. Mulai bergabung pada 2015, awalnya ia ditempatkan sebagai staf Human Capital (HC) Len Industri ⸺selanjutnya disebut Len⸺ yang bergerak dalam pengembangan bisnis dan produk-produk di bidang elektronik untuk industri dan prasarana di bawah koordinasi Kementerian BUMN.

Tentu saja, lulusan S-1 Teknik Industri Institut Teknologi Bandung (2011) dan S-2 Teknik & Manajemen Industri ITB (2012) ini harus belajar dari nol terkait bidang spesifik human capital di perusahaan yang sangat spesifik pula. Namun baginya, kesempatan tidak datang dua kali.

Sebelumnya, Rastina menjadi asisten konsultan proyek Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Lesung. Adapun kini ia berada dalam institusi yang jauh lebih besar, gabungan pengembangan bisnis dan produk-produk dalam bidang elektronik untuk industri dan prasarana yang berbeda-beda medan tempurnya.

Apalagi, kemudian, empat tahun berselang (medio 2019) Rastina diangkat sebagai Manajer Komunikasi Korporasi yang memiliki tanggung jawab besar. “(Sebelumnya) saya pernah ditunjuk sebagai Plt. Manajer Legal, sebagai GM Institutional Relationship & Corporate Communication, dan pernah juga ditunjuk sebagai GM Human Capital Organization & General Affairs,” ungkap Rastina yang merupakan GM termuda Len saat ini, yang juga aktif dalam komunitas sebagai Ketua Muda BUMN Klaster Industri Pertahanan dan penanggung jawab Srikandi Len Industri.

Salah satu tugas penting yang diembannya adalah memperkenalkan Len kepada khalayak luas. Banyak masyarakat yang belum mengenal sepak terjang perusahaan yang berdiri sejak 1965 ini.

Dulu, perusahaan ini dikenal dengan nama LEN (Lembaga Elektroteknika Nasional), kemudian pada 1991 bertransformasi menjadi badan usaha milik negara (BUMN). Sejak itu, Len bukan lagi merupakan kepanjangan Lembaga Elektroteknika Nasional, melainkan menjadi sebuah entitas bisnis profesional bernama PT Len Industri (Persero).

Len sekarang tidak hanya mengerjakan proyek pertahanan, tetapi juga nonpertahanan, seperti energi terbarukan, signaling, dan railway. Selanjutnya, akan terus diperkuat menjadi pusat inovasi dan industri radar nasional. Len pun akan mengekskalasi kemampuannya sebagai bagian dari target menjadi top 50 global defence company.

Melihat prospek dan jangkauan Len, dengan sendirinya tugas dan tanggung jawab Rastina menjadi sangat besar. Terutama, terkait proses branding, menurutnya sedang menghadapi krisis cukup sulit. “Karena sibuk membuat produk dan project, Len lupa mem-branding dirinya,” ungkapnya. Hal itu membuat pihaknya sulit menemukan talenta-talenta terbaik untuk bergabung dengannya.

Ada dua langkah yang ditempuh Rastina dalam mengatasi krisis branding. Pertama, memperluas dan memperkuat brand relations dengan media. Kedua, berusaha mengomunikasikan setiap aktivitas atau penghargaan yang diterima Len dalam bentuk story telling yang disebarkan ke media sosial. Mengapa story telling? Katanya, agar dapat meningkatkan branding dan mendekatkan perusahaan dengan masyarakat luas.

Kebetulan, selama tiga tahun terakhir Len banyak menerima penghargaan. Di antaranya, Anugrah Keterbukaan Informasi Publik Kategori Informatif, Top 3 BUMN Awards (2021), The Best Corporate Communication Strategy in IT & Telecommunication Group Category (2021), dan The Best Brand Image in Defense Industry Category (2021). Ada lagi penghargaan yang diterima secara personal. Misalnya, Millenovation Award (2018) dan Best Human Capital Development Certification Program Awardee (2017).

Bagi Rastina, perjalanan leadership serta pencarian values dimulai pada awal rekrutmen. Saat itu ia mendapatkan strecthing dan growing di bidang HC ketika mendapatkan tugas akseleratif selama tiga bulan, yakni saat menggantikan seniornya cuti melahirkan. “Di sana, saya belajar banyak dan tidak banyak mengeluh, dan ternyata saya mendapatkan kepercayaan untuk memberikan ide-ide kepada direksi secara langsung,” katanya mengenang.

Momen penting kembali terjadi tahun 2019. Sebagai anggota termuda di HC, ia ditunjuk menjadi ketua tim dalam perubahan sistem karier dan remunerasi. Lalu, di tahun yang sama, ia juga ditunjuk sebagai Manajer Corporate Communication yang bertugas membuat publik percaya bahwa Len memiliki dampak nyata untuk kemandirian dan pertahanan Indonesia.

Contohnya, pelibatan Len dalam pengoperasian sistem perkeretaapian tidak lepas dari peran sentral Operation Control Centre (OCC) yang berfungsi menyupervisi seluruh pergerakan kereta dan kesesuaian jadwal kereta. “Nah, OCC dengan nama SiLVue buatan anak negeri sudah beroperasi di berbagai jalur kereta di Indonesia,” kata Rastina.

SiLVue, ia menambahkan, antara lain sudah dioperasikan di OCC LRT Jakarta, LRT Sumatera Selatan, Skytrain Bandara Soekarno-Hatta, Daop 1 Jakarta (Manggarai), Daop 4 Semarang, Daop 5 Purwokerto, Daop 8 Surabaya, serta Daop 7 Madiun.

Intinya, jiwa leadership harus terus berkembang. “Tahun 2020, saya ditunjuk sebagai Plt. Legal untuk ikut serta dalam revisi UU Cipta Kerja Pertahanan dan mengawal Holding BUMN. Sementara di tahun 2021, saya diangkat sebagai GM Institutional Relationship & Corporate Communication,” katanya.

Selama enam bulan di HC, Rastina juga membuat sesi knowledge sharing untuk mengekskalasi budaya berbagi pengetahuan di perusahaan. “Selanjutnya, kami membuat leader melalui coaching, job shadowing & deputizing, dan knowledge sharing,” ujarnya.

Dalam perjalanan kariernya, Rastina merasa kehadiran para mentor mutlak diperlukan. Dari mentor Nia Herminanti, SGM Human Capital & General Affairs, misalnya, ia mengaku mendapatkan ilmu agar tidak gentar walaupun bekerja di industri yang didominasi pria. Menurutnya, perempuan tetap bisa menjadi leader dan tidak harus meniru gaya kepemimpinan laki-laki. “Jadilah dirimu sendiri, kembangkan karakter keibuan yang nurturing dan empowering,” demikian pesan Nia untuknya.

Kemudian, dari mentor lain, Indarto Pamungkas, Rastina mendapatkan wisdom yang mengajarkan bahwa experince is not the best teacher, tetapi evaluated experience is the best teacher. “Dia mengajarkan disiplin dan push the limit,” ujarnya.

Pendeknya, Rastina mencoba menyeimbangkan antara pekerjaan dan keluarga. “Saya memiliki keluarga yang siap membantu ketika saya harus bekerja ekstra. Namun, saya tetap memprioritaskan keluarga dibandingkan pekerjaan, dan mengomunikasikan itu secara jelas dengan atasan,” ia menegaskan. Intinya, siapa pun perlu membuat support sistem yang mau membantu.

Jika berjalan sesuai rencana, dalam 5-10 tahun ke depan Len diyakini bakal menjadi global leader yang memberikan impact kepada banyak orang. Kuncinya, untuk mencapai 50 global defence company di tahun 2024, harus menumbuhkan global mindset, global achievement, dan high impactful culture.

“Untuk mencapai target tersebut, kami juga memerlukan global leader, menyekolahkan karyawan di luar negeri dan mendapatkan exposure dari luar, serta melakukan sertifikasi internasional dan terbiasa bekerja dengan mitra internasional,” Rastina menandaskan. (*)

Dyah Hasto Palupi dan Anastasia AS

www.swa.co.id


Artikel ini bersumber dari swa.co.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *