PMI Manufaktur RI Makin Melambat, Tapi Pemerintah Yakin Permintaan Dalam Negeri Masih Kuat

PMI Manufaktur RI Makin Melambat, Tapi Pemerintah Yakin Permintaan Dalam Negeri Masih Kuat

tribunwarta.com – Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia pada November 2022 berada di level 50,3. Angka indeks manufaktur itu melambat dibandingkan bulan-bulan sebelumnya yakni di Oktober 2022 sebesar 51,8 dan September 2022 sebesar 53,7.

Kendati demikian, pemerintah meyakini permintaan dalam negeri masih terindikasi cukup kuat, sebagaimana ditunjukkan oleh stabilitas konsumsi dalam negeri hingga saat ini. Serta pembukaan lapangan kerja masih ekspansif dan diharapkan dapat konsisten.

“Sektor manufaktur yang masih ekspansif hingga saat ini merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga kesinambungan pemulihan ekonomi dalam negeri di tengah kenaikan risiko dan ketidakpastian perekonomian global,” ujar Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu dalam keterangannya dikutip Sabtu (3/12/2022).

Ia menjelaskan, dengan berada di atas level 50 maka menunjukkan sektor manufaktur Indonesia masih ekspansif di tengah pelemahan PMI manufaktur beberapa negara yang bahkan mulai mengalami kontraksi.

Seperti PMI manufaktur Vietnam berada di level 47,4 pada November 2022, turun dari Oktober yang sebesar 50,6. Kemudian Jepang yang terkontraksi di level 49 pada November 2022, dari bulan sebelumnya berada di level 50,7.

Beberapa negara lain juga belum berhasil keluar dari zona kontraksi seperti Myanmar yang berada di level 44,6 pada November 2022, semakin melambar dari Oktober 2022 yang sebesar 45,7. Serta Malaysia di level 47,9 pada November 2022, melemah dari bulan sebelumnya yang di level 48,7.

Adapun sektor manufaktur Indonesia tercatat bertahan di level ekspansif atau di atas 50 sudah dalam 15 bulan secara berturut-turut.

“Secara keseluruhan, optimisme dunia usaha masih terjaga dengan terus stabilnya kondisi pandemi serta pemulihan permintaan yang terus menguat meskipun sebagian responden mulai mengantisipasi risiko gejolak ekonomi global,” tutup Febrio.

Sebagai informasi, angka PMI manufaktur mengindikasikan optimisme pelaku sektor itu terhadap kondisi perekonomian suatu negara ke depannya. Jika nilainya di atas 50 maka negara itu mengalami ekspansi, sementara jika di bawah 50 berarti negara itu mengalami kontraksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!