Pertanian urban solusi ketahanan pangan rumah tangga perkotaan

Pertanian urban solusi ketahanan pangan rumah tangga perkotaan

tribunwarta.com – Ketersediaan pangan merupakan hal penting bagi kehidupan manusia.Sedemikian pentingnya pangan bagi manusia diakui negara bahwa urusan pangan merupakan urusan wajib. Ketahanan pangan suatu negara akan menjadi salah satu indikator dari kedaulatan negara itu sendiri.

Sumber pangan tidak melulu dari pola konvensional yang membutuhkan lahan luas. Sumber pangan dapat juga adaptif dengan kehidupan masyarakat perkotaan yang kemudian dikenal dengan model pertanian urbandan kini banyak dikembangkan di masyarakat.

Analis Kebijakan Ahli Madya Dinas Pangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Elfida mengatakan pertanian urban didefinisikan sebagai konsep memindahkan pertanian konvensional ke pertanian perkotaan. Faktor yang membedakan terletak pada pelaku dan media tanamnya.

Pertanian urban merupakan kegiatan budi daya tanaman atau memelihara hewan ternak di dalam dan di sekitar wilayah kota besar (metropolitan) atau kota kecil untuk memperoleh bahan pangan atau kebutuhan lain dan tambahan finansial.

Pertanian urban ini berkembang sebagai respons dari banyaknya masalah yang berkaitan dengan kehidupan di perkotaan, yakni semakin berkurangnya lahan pertanian karena pembangunan.

Hal ini memicu orang-orang dengan kemampuan dan pengetahuan dalam bidang pertanian memanfaatkan peluang dengan mengoptimalkan potensi sumber daya sekitar, guna membudidayakan tanaman sayuran pada lahan terbatas atau lahan telantar, secara maksimal.

Minsalnya penerapan pertanian urban yang dapat dilaksanakan pada pekarangan rumah, antara lain hidroponik, polybag, vertikultur dan memanfaatkan rooftop.

Hidroponik adalah istilah yang dipakai untuk sistem penanaman dalam media air, dimana unsur hara yang biasa diperoleh tanaman dari tanah digantikan dengan nutrisi buatan dalam media air. Salah satu caranya adalah dengan memanfaatkan pipa air. Untuk menjamin sirkulasi nutrisi, dalam rangkaian pipa air tersebut disiapkan alat pompa dengan kapasitas tertentu.

Selain nutrisi, hal yang perlu diperhatikan dalam membuat hidroponik adalah suhu dan intensitas cahaya. Tanaman hidroponik luar ruang membutuhkan cahaya matahari sekurangnya 8 jam, dengan cahaya yang terbaik mulai dari pagi sampai tengah hari.

Sementara tanaman hidroponik dalam ruang membutuhkan cahaya dengan lampu LED yang sudah dipadukan spektrum biru dan spektrum merah selama 8 hingga 10 jam. Sebagai gambaran, pada lahan kurang lebih 1 x 2 meter, dengan metode hidoponik dapat menampung sekitar 20 hingga 25 tanaman dalam sekali siklus tanamnya.

Menggunakan polybag adalah cara lain dalam melaksanakan penanaman di lahan terbatas. Saat menggunakan polybag, media tanam berupa tanah, kompos, dan arang sekam dengan perbandingan 2 : 1 : 1. Penanaman dengan cara ini relatif hemat biaya karena alat yang dipergunakan cukup sederhana.

Cara lain yang cukup efisien dalam memanfaatkan lahan adalah dengan menerapkan vertikultur. Dengan memanfaatkan bidang vertikal, seperti dinding dan pagar rumah. Vertikultur biasanya digunakan untuk menanam tanaman berusia pendek, seperti selada, seledri, sawi, bayam dan berbagai jenis sayuran lainnya. Keunggulan vertikultur juga pada pot tanaman yang biasanya berupa botol bekas, bambuatau bahan sekitar rumah yang dapat “disulap” sebagai wadah tanaman.

Untuk jenis rooftopdengan memanfaatkan bagian atap rumah atau bagian lantai atas rumah sebagai lahan bertanam. Metode ini dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai cara penanaman. Hal yang perlu diperhatikan adalah kekuatan konstruksi atap atau bagian atas rumah, karena selain untuk tempat tanaman tumbuh juga harus dapat menahan beban manusia yang berada di atas. Fungsi taman rooftop, selain pada hasil tanaman juga sebagai peredam panas matahari yang masuk ke dalam rumah serta sebagai tempat bersantai.

Trenpertanian urban, apabila terus dikembangkan dapat diproyeksikan menjadi penyuplai bagi ketersediaan bahan makanan dan ketahanan pangan di wilayah perkotaan. Kemampuan mencukupi kebutuhan pangan secara mandiri akan mengurangi faktor hambatan distribusi pangan ke wilayah perkotaan.

Sebagai gaya hidup, trenpertanian urban dianggap sebagai gaya hidup sehat. Hal ini dikarenakan sebagian besar pertanian urban lebih memilih menerapkan sistem penanaman organik yang tidak menggunakan pupuk kimia dan pestisida sintetis.

Pertanian urban dapat menciptakan lingkungan yang nyaman dan sehat untuk ditinggali dengan berbagai sistem penanaman, seperti vertikultur, hidroponik dan aquaponik yang dengan mudah dapat diterapkan di area terbatas.

Pertanian urban bisa dikembangkan oleh masyarakat banyak sebagai kegiatan produktif untuk pemberdayaan dan menunjang perekonomian masyarakat. Hubungan sosial kemasyarakatan dapat tumbuh dengan menguatnya rasa kebersamaan dan menciptakan budaya bergotong royong di lingkungan masyarakat perkotaan.

Namun, pertanian urban juga memiliki dampak kurang menguntungkanjika tidak dikelola dengan baik, di antaranya adalah apabila penerapannya kurang baik dan optimal. Sementara biaya investasi awal relatif jauh lebih besar dibandingkan pertanian konvensional.

Kemudian, kurangnya keterampilan pelaku serta sarana pendukung pertanian urban dapat menjadi penyebab utama kegagalan praktik pertanian urban. Kelalaian dalam perawatan juga memicu berkembangnya nyamuk yang menjadi sumber penyakit.

Selain itu, sejauh ini pertanian urban tidak berorientasi pada produksi, sehingga hasilnya masih jauh dari hasil pertanian di perdesaan atau di lahan konvesnional.

Potensi pertanian urban cukup besar untuk dikembangkan. Inovasi dan kebijakan pemerintah daerah setempat dapat menjadi mendorong perkembangan pertanian urban. Sebuah kebijakan pemerintah yang dapat diterapkan, antara lain terkait dengan penetapan pajak bumi dan bangunan.

Penetapan pajak dengan memodifikasi pendataan manual dengan teknologi citra satelit dapat memotret luasan rumah dan pekarangan masyarakat beserta tutupan lahan dan tutupan atapnya.

Kebijakan pengurangan pajak diterapkan bagi rumah tangga yang memaksimalkan pemanfaatan lahan, bahkan rumah (dinding dan atapnya) untuk penghijauan, termasuk di antaranya untuk pertanian urban.

Peningkatan ketahanan pangan di level rumah tangga di masyarakat perkotaan dapat diupayakan dengan pelaksanaan pertanian urban yang melibatkan banyak rumah tangga pelaku.

Memanfaatkan lahan pekarangan rumah tangga untuk bercocok tanam berbagai jenis tanaman atau dengan memadukannya dengan beternak dan memelihara ikan dapat menjamin ketersediaan bahan pangan yang beraneka ragam secara terus menerus serta dapat memenuhi kebutuhan gizi keluarga yang berkualitas.

Disamping itu, aspek ekonomi juga dapat dirasakan bagi pegiat pertanian urban, yakni pemangkasan biaya konsumsi rumah tangga terhadap pangan segar. Jika kebutuhan bulanan rumah tangga untuk konsumsi sejumlah Rp 1.500.000,- dan bisa dipenuhi 1/3-nya dari hasil tanaman di sekitar rumah, maka ada kesempatan menabung senilai Rp 500.000/bulan dalam satu keluarga.

Kesempatan menambah penghasilan juga dimungkinkan dari menjual hasil panen tanaman, bahkan dapat menutupi biaya kebutuhan rumah tangga lainnya. Dengan sederet keuntungan yang diperoleh dari berkebun di rumah, sepertinya tidak ada alasan lagi bagi penduduk perkotaan untuk tidak mulai berkebun.

Seyogyanya pemerintah daerah, lembaga masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan terkait mendukung penumbuhan trenpertanian urban.

Dengan adanya kebijakan serta aksi yang mengarah pada dukungan peningkatan ketahanan pangan di rumah tangga perkotaan akan lebih mendorong pertumbuhan aktivitas pertanian urban di masyarakat perkotaan, kata Elfida.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!