Perbandingan Iklim Investasi Indonesia Vs Vietnam, INA Kurang Ramah

Perbandingan Iklim Investasi Indonesia Vs Vietnam, INA Kurang Ramah

tribunwarta.com – Yuk, membandingkan iklim investasi Indonesia VS Vietnam yang sukses menjadi bintang baru investasi di Asia.

Indonesia perlu belajar dari Vietnam terkait penanaman modal asing. Nah, kali ini Finansialku akan membahas artikel tentang iklim investasi di Indonesia dan Vietnam.

Agar lebih jelas, mari simak ulasannya berikut ini. Selamat membaca!

Rubrik Finansialku

Investasi Indonesia Vs Vietnam

Bank Dunia pada bulan lalu memberikan laporannya kepada Presiden Joko Widodo yang membuatnya jengkel.

Bagaimana tidak, dalam laporannya itu berisi daftar baru dari perusahaan yang hengkang dari China akibat perang dagang.

Dalam data tersebut, Bank Dunia menyebut 33 perusahaan sudah merelokasikan produksinya dari China dalam dua bulan terakhir.

[Baca Juga: Indeks Daya Saing Indonesia Ke-4 ASEAN, Turun 5 Peringkat Dunia]

Dari seluruh perusahaan itu, 23 diantaranya memilih pindah ke Vietnam, 10 perusahaan sisanya juga pindah ke Malaysia, Thailand, dan Kamboja. Indonesia dilewatkan begitu saja oleh para investor dari negara tujuan pelarian mereka.

Banyak para investor yang memilih Vietnam dan inilah yang membuat Jokowi terheran-heran, kurang cantik apa Indonesia sehingga investor tidak melirik tanah air sama sekali.

“Tidak ada yang ke Indonesia, tolong ini digarisbawahi. Hati-hati, berarti kita punya persoalan yang harus kita selesaikan.”

Vietnam menjadi bintang baru investasi di Asia. Negara ini menjadi tujuan investasi sejumlah perusahaan yang relokasi dari Tiongkok.

Tingginya minat investasi asing terlihat dari nilai tambah industri manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) yang tumbuh 20 persen dalam enam tahun terakhir.

Pemerintah Vietnam berkomitmen untuk menciptakan iklim berbisnis yang mendukung bagi investor asing.

Hal ini dilakukan melalui perbaikan stabilitas sosial-politik dan regulasi terkait investasi.

Untuk memulai bisnis di Vietnam, tak ada modal minimal yang harus disetor kecuali usaha padat modal.

Pajak Penghasilan (PPh) Badan dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) masing-masing dikenakan 20% dan 10%.

Investor juga akan mendapat pembebasan pajak (tax holiday) selama 2-4 tahun, tergantung lokasi usaha, jenis industri dan nilai investasi.

Hingga tahun ini, berdasarkan catatan Bank Dunia, jumlah regulasi terkait investasi Vietnam sebanyak 4.000.

Jumlah ini lebih sedikit jika dibandingkan dengan Indonesia yang mencapai 6.300 regulasi.

Di Indonesia sendiri, investor yang memulai bisnis harus menyetor modal minimal Rp2,5 miliar. PPh Badan yang dikenakan pun lebih besar yaitu 5%.

Akan tetapi, masa pembebasan pajak berlaku hingga 5-20 tahun, tergantung dengan nilai investasinya.

Untuk pemotongan pajak setelah masa pembebasan pajak habis di Indonesia sebesar 50% dari PPh Badan selama 2 tahun. Sedangkan Vietnam, 10-50% dari PPh Badan 5-15 tahun atau selamanya.

[Baca Juga: Berkat Startup, Ekonomi Digital Indonesia Tembus Rp 560 T]

Rata-rata rasio investasi asing terhadap PDB pada tahun 2010 hingga 2018, Indonesia hanya mencapai 2,1% sedangkan Vietnam mencapai 5,9% dengan nilai tambah manufaktur PDB di tahun 2013 13,3% dan 2018 sebesar 16%.

Sedangkan nilai tambah manufaktur terhadap PDB Indonesia di tahun 2013 mencapai 21,1% dan pada tahun 2018 mencapai 19,9%.

Dengan begitu, iklim investasi Vietnam dinilai lebih ramah daripada Indonesia. Berdasarkan Incremental Capital-Output Ratio (ICOR) pada 2019, Vietnam mencapai 4,6, sedangkan Indonesia masih 6,6.

Alasan Investor Asing Tidak Melirik Indonesia

Bank Indonesia menilai ada sejumlah permasalahan yang menghambat investasi asing di Indonesia. Persoalan inilah yang dinilai menjadi penyebab tak satu pun industri yang merelokasikan pabriknya dari Tiongkok.

Indonesia dinilai berisiko, rumit dan tidak kompetitif. Dalam proses perizinan Indonesia membutuhkan waktu 1 tahun atau bahkan lebih. Sedangkan di Vietnam dan Thailand cukup 2 bulan.

[Baca Juga: Waspada! Perlambatan Ekonomi Indonesia Terjadi Saat Ini]

Pengurusan SNI juga membutuhkan waktu 4,5 bulan dengan banyak tahapan yang harus dilakukan.

Kemudian impor untuk produksi ekspor di Indonesia mahal dan lama. Di atas kertas surat rekomendasi hanya 5 hari tetap kenyataannya bisa sampai 3-6 bulan.

Selain itu regulasi di Indonesia dinilai tidak terprediksi, inkonsisten dan saling bertentangan. Terlalu banyak peraturan seperti 6.300 aturan menteri (2015-2018), 5000 aturan menteri (2011-2014).

Peraturan Daerahnya pun saling kontradiktif dengan regulasi pemerintah pusat dan tidak ada entitas tunggal yang akuntabel untuk memastikan prioritas pemerintah.

“Tak ada bisnis yang relokasi ke Indonesia, karena negara lain lebih ramah. Bahkan ada yang lebih gigih melakukan reformasi”

(Bank Dunia, September 2019)

Indonesia Harus Belajar Dari Vietnam

Vietnam sendiri, sebelumnya pernah ada di titik yang sama seperti Indonesia. Namun sekarang memang mereka berhasil menggaet 69% perusahaan yang berpindah dari negara tirai bambu itu.

Menurut laporan World Economic Forum, menyulap ekonomi Vietnam bukanlah perkara mudah. Pada 1986 silam, pemerintah Vietnam harus menyiapkan paket reformasi kebijakan dan ekonomi yang disebut Doi Moi.

Reformasi dilakukan karena pemerintah Vietnam gemas dengan pendapatan per kapita yang hanya di kisaran US$200 hingga US$300 per hari.

Dari serangkaian kebijakan tersebut, World Economic Forum merangkum tiga alasan mengapa Vietnam menjadi bintang bersinar di Asia belakangan ini.

Pertama, Vietnam sangat berkomitmen dengan globalisasi ekonomi.

Kedua, penyederhanaan regulasi secara bombastis. Ketiga, investasi jor-joran di Sumber Daya Manusia (SDM).

Kini Vietnam sudah bisa memetik buah dari usaha keras mereka selama bertahun-tahun.

Pertumbuhan Penanaman Modal Asing (PMA) Vietnam selama paruh pertama 2019 mencapai US$16,74 miliar atau tumbuh 69,1 persen secara tahunan.

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan PMA Indonesia selama semester I 2019 sebesar US$14,2 miliar dengan pertumbuhan hanya sebesar 4 persen. Namun, pemerintah tak perlu jengkel melihat data tersebut.

[Baca Juga: Pajak Negara Lain Sudah Turun. Apa Kabar Indonesia?]

Tak ada salahnya pemerintah mencontoh kisah sukses Vietnam. Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus mengatakan Indonesia bisa mencontoh Vietnam dalam tiga hal, yakni; kemudahan regulasi investasi, SDM, dan perjanjian dagang.

Menurutnya, dalam hal regulasi investasi, Vietnam adalah nomor pertama dalam urusan penyediaan lahan. Investor yang ingin menanam modal di Vietnam diberikan sertifikat perizinan lahan.

Sedangkan di Indonesia, masalah lahan untuk berinvestasi kerap kali dijadikan permasalahan terutama dalam proses sertifikasi dan izin bangunan.

Dari sisi upah tenaga kerja pun Vietnam dianggap lebih kompetitif. Menurut data The ASEAN Briefing 2018 lalu, upah minimum di Vietnam paling tinggi sebesar US$173 per dolar AS atau setara dengan Rp2,42 juta per bulan.

Terakhir dan yang paling penting, Vietnam disebutnya memiliki banyak perjanjian dagang.

Saat ini Vietnam mengantongi 15 perjanjian perdagangan bebas (Free Trade Agreement/FTA) sehingga biaya ekspornya lebih efisien dan penetrasi pasarnya pun terbilang mudah dibanding Indonesia.

Maka dari itulah, Indonesia harus bisa mencontoh langkah-langkah yang diambil Vietnam seperti memperbanyak perjanjian dagang agar investor banyak melirik Indonesia.

Menurut Anda apakah Indonesia harus berguru ke Vietnam agar bisa mengikuti jejaknya dalam hal iklim investasinya?

Berikan tanggapan Anda di kolom komentar di bawah ini. Ayo bagikan artikel Finansialku kepada teman dan kerabat Anda. Semoga bermanfaat.

Sumber Referensi:

    Andrea Lidwina. 21 September 2019. Perbandingan Iklim Investasi Indonesia dan Vietnam. Katadata.co.id – https://bit.ly/2kUR3wr

    Galih Gumelar. 11 September 2019. Perlu Cari Ilmu ke Vietnam untuk Datangkan Investasi. Cnnindonesia.com – https://bit.ly/2VOW0VM

Sumber Gambar:

    Indonesia VS Vietnam 01 – http://bit.ly/2MHXugc

    Indonesia VS Vietnam 02 – http://bit.ly/2MHXzR2

    Indonesia VS Vietnam 03 – http://bit.ly/31iGAKj

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!