Mother of Industry, Kebutuhan Baja RI Bisa Capai 100 Juta ton

Mother of Industry, Kebutuhan Baja RI Bisa Capai 100 Juta ton

tribunwarta.com – Menteri Koordinator Perekonomian RI Airlangga Hartarto menegaskan Industri baja merupakan salah satu pilar utama bagi pembangunan Indonesia Maju. Saat ini kebutuhan baja nasional berada pada kisaran 16 juta ton dan diproyeksi meningkat menjadi 100 juta ton pada 2045.

Hal ini diungkapkan saat membuka IISIA Business Forum 2022 (IBF 2022) yang diadakan oleh The Indonesia Iron & Steel Industry Association (IISIA) bersama Kamar Dagang dan Industri (KADIN).

“Kebutuhan baja meningkat jadi 100 juta ton di 2045, saat kita menargetkan menjadi negara maju dengan kekuatan ekonomi terbesar nomor 4 di dunia,” kata Airlangga dalam siaran pers, Jumat (2/12/2022).

Pembangunan industri baja menuju 100 juta ton merupakan keniscayaan industri di tanah air mampu membangun kemandirian industri nasional. Sementara itu, Chairman IISIA Silmy Karim mengatakan IBF 2022 adalah ajang industri besi dan baja terbesar di Indonesia pada 2022.

Diikuti oleh 91 perusahaan-perusahaan ternama maupun peserta dari profesional dan institusi pendidikan yang menekuni bidang industri besi baja, manufaktur, konstruksi maupun infrastruktur.

“Kami berterima kasih kepada KADIN dan seluruh pihak yang sudah mendukung terlaksananya IBF 2022 ini. Industri baja nasional sebagai Mother of Industries sudah sepatutnya bersinergi bersama industri lainnya bergerak bersama memaksimalkan penggunaan produk-produk unggulan dalam negeri untuk kemajuan Indonesia,” kata Silmy.

Industri baja nasional saat ini masih pada tahap pertumbuhan awal yang akan terus meningkat pesat seiring pertumbuhan ekonomi nasional. Konsumsi baja per kapita Indonesia saat ini masih kurang dari 70 kg per kapita per tahun, jauh tertinggal dari Korea Selatan 1.076 kg, Tiongkok 667 kg, Jepang 456 kg, dan Amerika Serikat 291 kg per kapita.

Konsumsi Indonesia bahkan tertinggal dibandingkan dengan konsumsi baja per kapita negara tetangga ASEAN, seperti Malaysia 210,5 kg, Thailand 233,3 kg, dan Singapura 273,5 kg per kapita.

Dari sisi produksi, Indonesia saat ini baru memproduksi baja kasar sebanyak 14,3 juta ton, jauh tertinggal dari Tiongkok 1.032,8 juta ton, India 118,2 juta ton, Jepang 96,3 juta ton, Amerika Serikat 85,8 juta ton, Rusia 75,6 juta ton, dan Korea Selatan 70,4 juta ton.

“Dari data tersebut dapat kita simpulkan bahwa peluang berkembangnya industri baja nasional masih sangat besar sehingga kita dorong agar industri baja nasional dapat terserap oleh kebutuhan dalam negeri,” ujar Silmy.

Turut hadir dalam acara pembukaan, Direktur Industri Logam Dasar Kementerian Perindustrian Liliek Widodo serta Direktur IKM Industri dan Direktur Industri Kecil & Menengah Logam, Mesin, Elektronika & Alat Angkut Kementerian Perindustrian Dini Hanggandari yang mewakili Menteri Perindustrian RI Agus Gumiwang Kartasasmita.

“Kementerian Perindustrian menyambut baik dan mendukung diselenggarkannya IBF 2022 yang mempertemukan seluruh stakeholder industri baja nasional. Kami juga berharap agar IBF 2022 menjadi tonggak sinergi untuk meningkatkan penggunaan produk dalam negeri serta pengembangan industri nasional dalam mendukung kemandirian industri dan perekonomian nasional,” ujar Liliek Widodo.

Ketua Umum KADIN Arsjad Rasjid menyatakan dengan adanya acara seperti IBF 2022 ini yang akan berkontribusi positif pada pergerakan ekonomi Indonesia.

“Bahkan bersama dukungan HIPMIKINDO, UMKM di Surabaya berpartisipasi dalam acara IBF 2022 ini. Kami berupaya agar industri-industri kecil pun mendapatkan apresiasi di masyarakat, sehingga kesinambungan pergerakan ekonomi bergerak menyeluruh dari semua kalangan. Hal ini kemudian yang akan membantu terwujudnya kemandirian industri nasional,” lanjut Arsjad.

Penyerapan industri baja nasional dan Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) maupun Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) merupakan agenda utama dari IBF 2022 ini. Mulai dari Keynote Speech hingga seminar yang diadakan bersama institusi pendidikan membahas industri besi dan baja, pengaplikasiannya pada sektor konstruksi dan infrastruktur, penggunaan baja sebagai bangunan tahan gempa, maupun kebutuhan baja untuk proyek-proyek pemerintah termasuk diantaranya pembangunan Ibu Kota Negara Nusantara.

“Semoga penyelenggaraan IBF 2022 ini menjadi pionir untuk diadakannya acara-acara serupa sehingga terjalin hubungan yang sinergis antara asosiasi-asosiasi industri dengan pemerintah, maupun sarana edukasi bagi masyarakat terkait pentingnya industri baja bagi pembangunan nasional dan penggerak roda perekonomian untuk kemajuan Indonesia,” tutur Arsjad.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!