Mendag Bimbang Data RI Surplus Beras: Dari Mana Dasarnya?

Mendag Bimbang Data RI Surplus Beras: Dari Mana Dasarnya?

tribunwarta.com – Beberapa waktu lalu pemerintah akhirnya menandatangani untuk impor beras dari Vietnam hingga Thailand setelah 3 tahun puasa impor. Hal ini dilakukan guna memenuhi cadangan beras pemerintah (CBP).

Meski demikian, Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan sempat menentang kebijakan impor beras. Pasalnya, Menteri Pertanian mengatakan Indonesia surplus beras.

“Impor beras saya tidak setuju karena Menteri Pertanian mengatakan kita surplus, 7 juta, walaupun dalam hati saya nggak percaya. Karena data BPS 7 juta, saya tolak itu (impor beras). Ratas pertama saya nggak setuju, tapi bulog mengatakan beras kami tinggal dikit, 500 ribu ton. Biasanya minimal 1,2 juta ton,” ucap pria yang akrab disapa Zulhas dalam Webinar Nasional ICMI TALK “Polemik Impor Beras di Akhir Tahun”, Selasa (27/12/2022).

Ia pun mengungkapkan kegelisahan hatinya terkait produksi beras Indonesia yang dibilang surplus.

“Kata Mentan surplus 7 juta saya percaya aja, tapi hati saya berkata lain, surplus dari mana wong kan pertanian itu satu soal produktivitas. Produksi itu akan produktif kalau pupuknya lengkap, cukup kalau obat-obatannya ada, kalau irigasinya bagus. Lah ini pupuk kurang terus, irigasinya nggak pernah menyaingi yang sebagus pak Harto, belum pernah ada. Obat-obatan tidak terkendali harga pasarnya,” tuturnya.”Pupuk waktu tanam nggak ada, nanti kalau panen baru ada lagi jadi saya sebetulnya nggak percaya ada stok 7 juta itu. Kemudian lahannya tambah kurang, tidak lebih. Jadi kalau produksi padi naik-naik terus itu dari mana itu, dasarnya,” lanjutnya.

Ia juga sempat menjelaskan pemerintah terus berupaya untuk mencari stok beras supaya tidak melakukan impor beras.

“Kita carilah beras, beli 10.000 nggak ada. Beli gabah, nggak ada orang belum panen. Sampai bulan keempat, beras masih naik terus, confident pasar terganggu, akhirnya 1 bulan nyari beras nggak ada, stok Bulog tinggal 300 ribu akhirnya diputuskan lah impor beras,” tuturnya.

Menurutnya, dalam memproduksi beras, petani Indonesia memiliki dua persoalan yaitu produktivitas dan pasar. Dalam meningkatkan produktivitas, petani masih membutuhkan bibit, pupuk, sarana irigasi, obat-obatan serta lahan yang memadai. Dari sisi pasar, mereka masih bermasalah di harga jual yang murah. Ia menambahkan, agar petani tidak bingung dari sisi pemasaran, sebaiknya pemerintah membeli hasil panen petani, contohnya seperti beras, jagung, dan kedelai.

“Petani itu yang penting kerja, produktif, hasilnya banyak. Dibeli sama perintah dengan harga untung, bukan harga rugi,” tuturnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!