Kisah Miftakhu Khafid, Raup Omzet Belasan Juta Per Bulan dari Bisnis Thrifting

Kisah Miftakhu Khafid, Raup Omzet Belasan Juta Per Bulan dari Bisnis Thrifting

tribunwarta.com – Miftakhu Khafid (26), pemuda asal Kecamatan Bener Kabupaten Purworejo , Jawa Tengah ini berhasil meraup omzet hingga belasan juta rupiah dari bisnis pakaian bekas.

Usaha yang digelutinya sejak dua tahun yang lalu ini membawa Khafid sukses di usianya yang masih muda.

Thrifting atau berbelanja barang bekas kian menjadi tren sebagian kalangan millenial di Purworejo. Kondisi itu terlihat antara lain dari tingginya tingkat pembelian baju bekas impor ini.

Khafid menyebut, tren thrifting di Kabupaten Purworejo didominasi oleh anak-anak kaum milenial. Namun, tak jarang para orang tua juga menyukai produk pakaian bermerek dengan kondisi bekas tersebut.

“Kebanyakan adalah kaum milenial, masyarakat Purworejo sudah mulai ramai dan suka terhadap produk thrifting sejak beberapa tahun yang lalu,” kata Khafid.

Khafid sendiri membuka toko thrifting di jalan Urip Sumoharjo no 77 Kelurahan Purworejo. Saat ini, ia sudah memiliki ssatu karyawan di toko miliknya dan beromzet mencapai belasan juta per bulannya.

Khafid mengungkapkan, tren berbelanja pakaian impor bekas mulai digemari kawula muda di Kabupaten Purworejo sejak sekitar tahun 2019.

Sejumlah pelaku bisnis thrift kemudian menyatu dan membentuk Paguyuban Purworejo Thrift Market sekitar awal tahun 2020 atau bertepatan dengan munculnya pandemi Covid-19.

Gencarnya promosi dan penjualan secara digital atau online membuat tren thrifting kian melejit.

“Sejak awal pandemi sampai sekarang, tren thrifting di Kabupaten Purworejo memang semakin naik. Tidak hanya anak-anak muda, kalangan orang tua pun mulai menggemarinya,” ungkap Khafid.

Jelang akhir tahun 2022, para pedagang baju bekas seperti Khafid, mengaku pendapatan meningkat 100 persen dibandingkan hari biasa.

Di hari-hari biasa, omzet penjualannya sekitar Rp 700.000 per hari. Namun omzet penjualan menjelang tahun baru bisa sampai Rp 1,5 juta per harinya.

Para pembeli di kios miliknya tak hanya dari Purworejo saja, melainkan sudah merambah ke Kabupaten tetangga seperti Kebumen dan Yogyakarta.

Sejumlah barang yang dijual Khafid berupa hoodie, crewneck, celana chino, celana jeans, kemeja, topi, t-shirt, rajut cewek/cowok sepatu dan lain-lainnya. Khafid biasanya membeli produk dari berbagai negara seperti China, Korea, Jepang dan Eropa,

“Harga mulai dari Rp50.000 hingga tidak terbatas tergantung merk dan kondisi barang. Kalau pas nemu barang yang bagus, satu potongnya bisa sampai satu jutaan,” jelas Khafid.

Khafid menjelaskan, banyak pembeli mencari barang yang bermerek seperti Nike, Adidas, Uniqlo, Gap, YSL, MLB, dan merek ternama lainnya.

Khafid mengatakan, saat ini stok barang seperti hoodie dan kemeja flannel di tokonya sangat menipis. Ia mengatakan, jelang tahun baru minat beli masyarakat sangat tinggi.

“Saya ambil barang biasanya dari Bandung. Baju itu didatangkan dari luar negeri,” kata dia.

Salah satu pengunjung asal Kecamatan Loano, Dida Arnessia Putri (23), menyebut bahwa banyaknya produk bermerek yang ditawarkan membuat pengunjung lebih leluasa memilih dan membeli. Apalagi, kendati produk bekas, seluruhnya masih tampak berkualitas.

“harganya lumayan murah dan banyak pilihannya,” ujar Dida.

Promosikan UMKM Anda dengan beriklan di jaringan Kompas Gramedia lewat . Konsultasikan strategi iklan bisnis Anda bersama tim sales sekarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!