Ini Strategi LPEI Dorong Produsen “Home Decor” Menjadi Eksportir

Ini Strategi LPEI Dorong Produsen “Home Decor” Menjadi Eksportir

tribunwarta.com – Produk kerajinan tangan atau handycraft, terutama home decor , belakangan banyak dilirik oleh konsumen luar negeri. Pandemi Covid-19 menjadi momentum bagi produsen jenis kerajinan ini bisa masuk ke pasar-pasar yang selama ini belum terlalu terbuka.

Sebagai lembaga pembiayaan ekspor , Indonesia Eximbank atau Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia ( LPEI ) melihat bahwa munculnya trend masyarakat mempercantik rumah bisa menjadi peluang tersendiri bagi produsen home decor di Indonesia untuk menggarap pasar ekspor.

Untuk mengetahui strategi LPEI mendorong produsen home decor Indonesia masuk ke pasar ekspor, Kompas.com mewawancarai Direktur Eksekutif LPEI Rijani Tirtoso. Berikut petikannya:

Bagaimana program LPEI mendorong produsen handycraft terutama yang home decor masuk ke pasar ekspor?

LPEI selain memberikan layanan penjaminan dan pembiayaan, kami juga berikan jasa konsultasi. Banyak UMKM yang kami bina, kami dampingi, kami beri akses pasar sehingga mereka bisa ekspor.

Jadi, dalam konteks untuk segmen spesifik home decor bisa kita lihat dari dua level. Level pertama adalah sisi yang komersial dan kedua dari sisi UMKM atau yang sedang bangun potensinya. Keduanya kami jadikan mereka sebagai eksportir.

Mengapa kita perlu bedakan levelnya? Supaya apa yang kami lakukan itu sesuai dengan kebutuhan mereka. Contohnya, eksportir yang masuk tahap awal, tentu baru memahami bisnis ekspor itu seperti apa, apa yang harus diperhatikan, termasuk tentang kita kerja sama dengan bea cukai supaya lebih mudah dapat izin ekspor.

Apa saja kelebihan program yang dilakukan LPEI untuk mendorong agar UMKM bisa menjadi eksportir?

Jadi, kita mengajarkan pada UMKM bahwa yang dijual itu bukan hanya produk tapi juga value. Setiap kami menawarkan sesuatu kepada buyer, itu harus ada cerita, misal mengenai sustainability-nya maupun community development. Ini yang menjadikan LPEI berbeda dibandingkan bank-bank komersial yang juga membangun ekspor. Kita sistemnya end to end, dari hulu ke hilir ekosistem.

Nah di masa pandemi, surprisingly, produk handycraft yang bukan kebutuhan essential, tapi permintaannya malah naik. Rupanya orang-orang dengan budaya kerja WFH itu ingin membuat suasana rumahnya berbeda. Jadi mereka banyak melakukan membeli hiasan rumah yang macam-macam.

Jadi ini yang membuat permintaan untuk produk home decor ini jadi meningkat. Teman-teman produsen yang di Bali di Jogja, mencatat kenaikan order.

Jadi, LPEI bilang di setiap kesulitan pasti ada jalan asal kita memang kreatif, kita kasih informasi, dan semangat untuk teman-teman UMKM.

Ada berapa banyak UMKM atau pelaku usaha yang bergerak di bidang home decor yang sudah jadi mitra LPEI?

Yang jelas, memang masih belum signifikan, karena kami masih banyak membina UMKM yang produknya berupa makanan minuman, produk dari kopi, kelapa, teh, cokelat. Kita paling besar di kopi.

Apa kendalanya? Apakah produsennya sedikit?

Kalau pasarnya sih besarnya besar banget ya. Cuma memang, untuk home decor itu butuh kreativitas. Jadi orang-orang yang punya talent di bidang ini kadang-kadang kurang percaya diri. Nah, akhirnya kebanyakan berpikir orang kan lebih butuh makanan, sandang, pangan, papan.

Walaupun punya bakat, mereka tidak mau mulai. Jadi, kita memang harus memprovokasi lebih dulu agar mereka tahu kalau permintaan itu banyak. Tinggal bagaimana kita memulainya.

Orang luar itu sangat apresiasi sesuatu yang sifatnya kreatif apalagi yang merupakan hasil tangan seperti kain atau bunga kering. Mungkin ambil tolok ukurnya, orang Indonesia, yang terlihat ingin mendekor rumah yang kaya saja, yang sederhana merasa tidak perlu. Padahal kan ada segmen-segmennya. Yang rumah sederhana pun kan perlu atau bisa dihias.

Apakah ada kriteria dari LPEI untuk pelaku usaha home decor ini agar bisa mendapat support?

Kami tidak ada kriteria khusus, jenisnya apa. Tapi kami tentu perlu lihat dari sisi uniqueness (keunikan), bahan bakunya, misal ternyata bahan bakunya dari kayu Gaharu kan pasti kita gak bisa support, lalu dari sisi sustainability, kualitasnya, jadi mereka melakukan produksinya harus dengan prinsip-prinsip yang bisa diterima, misalnya, karyawannya tidak ada yang di bawah umur.

Namun, dari sisi komersialnya juga kita akan perhatikan apa sih yang diminati, apa yang diminta. Di LPEI itu kita juga punya tim riset untuk sisi ekonomi dan juga para pelaku dan pembeli-pembeli kita di luar yang bisa dishare ke mereka.

Promosikan UMKM Anda dengan beriklan di jaringan Kompas Gramedia lewat . Konsultasikan strategi iklan bisnis Anda bersama tim sales sekarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!