Industri Menara Telekomunikasi: Peluang Pertumbuhan di Luar Jawa

Industri Menara Telekomunikasi: Peluang Pertumbuhan di Luar Jawa

tribunwarta.com – JAKARTA – Perusahaan penyedia menara telekomunikasi diprediksi tetap tumbuh pada tahun-tahun mendatang karena dapat dipastikan operator telekomunikasi akan memperluas jaringan dan meningkatkan kualitas layanannya. Untuk ekspansi jaringan dan layanan juga dipastikan akan menyasar wilayah Luar Jawa yang memiliki peluang pertumbuhan sangat tinggi.

Untuk mengantisipasi kebutuhan infrastruktur telekomunikasi tersebut, maka Mitratel terlihat paling siap mendukung rollout operator telekomunikasi dengan dukungan 35.051 tower dimana 20.329 tower atau 58% berada di luar Pulau Jawa.

Kehadiran menara Mitratel di luar Pulau Jawa ini menjadi peluang bagi operator yang mencari peluang pertumbuhan baru.

Merujuk pada Survei Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII), pada kuartal II/2022 penetrasi internet di sejumlah kawasan di Luar Pulau Jawa masih berada di bawah 60 persen.

Jumlah penetrasi internet di kawasan luar Pulau Jawa tersebut diperkirakan terus meningkat pada tahun depan, mengingat layanan data telah menjadi kebutuhan mendasar bagi masyarakat.

Operator seluler juga memiliki kewajiban untuk memenuhi pekerjaan rumah mereka, melayani masyarakat yang lebih luas, khususnya di luar Pulau Jawa.

Head External Communications XL Axiata Henry Wijayanto mengatakan bahwa perusahaan berkomitmen untuk selalu mendukung pemerintah dalam melakukan pembangunan infrastruktur dan penyediaan layanan telekomunikasi di berbagai wilayah di Indonesia.

Untuk pembangunan BTS 4G di wilayah non3T, XL Axiata telah merealisasikan 66 persen dari 861 wilayah yang menjadi bagian perseroan.

“Hingga saat ini sudah terealisasi sebanyak 572 desa terpencil dan saat ini tentunya juga masih terus berlanjut,” kata Henry.

Henry menuturkan perseroan akan terus memacu pembangunan jaringan di wilayah non-3T sebagaimana komitmen pembangunan yang disepakati.

Terpisah, SVP-Head of Corporate Communications Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) Steve Saerang mengatakan saat ini seluruh perencanaan dan pengadaan untuk penggelaran jaringan 4G di desa-desa telah selesai.

Pelaksanaan proyek pembangunan jaringan 4G di desa-desa non3T, kata Steve, masih dilakukan perusahaan hingga beberapa tahun ke depan.

“Saat ini sudah 61 persen kewajiban jaringan 4G di desa-desa non-3T sudah beroperasi, dan kami berusaha semaksimal mungkin untuk menuntaskan sesuai target hingga akhir tahun 2022,” kata Steve.

Seperti diketahui, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) telah membagi penggelaran jaringan 4G di desa-desa non-3T kepada 5 operator seluler. Total ada 3.435 desa yang menjadi tanggung jawab operator dalam pembangunan 4G.

Kelima operator itu ialah PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel), PT Indosat Tbk., PT XL Axiata Tbk., PT Smartfren Telecom Tbk., dan PT Hutchison 3 Indonesia (dimana saat ini Indosat dan Hutchinson sudah merger menjadi 1 perusahaan).

Dari sisi dukungan infrastruktur menara telekomunikasi, saat ini PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (Mitratel) menjadi yang terdepan dari sisi jumlah menara. Mitratel menjadi salah satu pemain utama untuk penyedia menara di luar Jawa.

Hingga kuartal III/2022, Mitratel memiliki menara 35.051 menara yang tersebar di seluruh Indonesia. Dari jumlah itu, sebanyak 20.385 menara atau sekitar 58 persen dari total menara yang dimiliki, berada di luar Pulau Jawa.

Tambah lagi, jelang era 5G, pilihan kolokasi di luar Pulau Jawa lebih menarik bagi operator dibandingkan dengan build to suit. Prospek pertumbuhan bisnis di luar Jawa pun tergolong sangat baik.

Data Mitratel mencatat untuk wilayah Sumatera ada 10.066 menara, selanjutnya untuk Jabodetabek ada 4.061 menara, area Jawa lainnya ada 10,605 menara, wilayah Kalimantan ada 3.303 menara, Sulawesi 3.070 menara, Bali dan Nusa Tenggara 2.404 menara dan terakhir di wilayah Maluku dan Papua ada 1.542 menara Telekomunikasi.

Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Sarwoto Atmosutarno mengatakan investasi operator telekomunikasi adalah investasi jangka panjang.

Operator akan terus memperluas jaringan, termasuk ke luar Pulau Jawa, meskipun kondisi global tidak menentu pada tahun depan.

“Jadi menyangkut telekomunikasi, saya rasa akan tetap berinvestasi di Luar Jawa, karena konektivitas masih banyak pekerjaan rumah,” kata Sarwoto di Jakarta, Senin (5/12/2022).

Tidak hanya itu, menurut Sarwoto, pasar luar Pulau Jawa juga menarik bagi operator telekomunikasi. Rata-rata pendapatan per pengguna (average revenue per user/ARPU) operator di luar Pulau Jawa lebih besar dibandingkan dengan ARPU operator di Pulau Jawa.

“Karena ada euforia digital bagi pengguna di luar Pulau Jawa. Mereka yang belum pernah menggunakan YouTube menjadi sering menggunakan YouTube, yang membuat konsumsi bandwidth menjadi lebih tinggi. Saya yakin operator akan berinvestasi,” kata Sarwoto.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!