Derita Kripto Belum Berakhir, Bitcoin Cs Jatuh di Ujung Tahun

Derita Kripto Belum Berakhir, Bitcoin Cs Jatuh di Ujung Tahun

tribunwarta.comJakarta, CNBC Indonesia – Pasar kripto masih dalam tren negatif di penghujung akhir tahun 2022. Banyaknya prahara di pasar kripto sepanjang tahun ini serta tingginya ketidakpastian global pada 2023 membuat sebagian besar kripto melemah.

Mata uang kripto dengan kapitalisasi besar juga masih rontok menjelang tutup tahun, termasuk Bitcoin, Ethereum, dan Tether.

Melansir data dari Coin Market Cap pada pukul 1:42 WIB, Bitcoin melandai 0,24% dalam sehari ke posisi US$ 16.556,69/koin atau setara dengan Rp 257,7 juta/koin. Asumsi kurs yang digunakan adalah posisi rupiah pada penutupan perdagangan Jumat pekan lalu di mana US$1 Rp 15.565/US$).

Ethereum melandai 0,13% dalam ke posisi US$ 1.195,19/koin atau Rp 18,6 juta/koin. Tether juga melandai 0,01% sehari ke US$ 0,997 atau Rp 15.518/koin pada hari ini

Dari 10 pemilik market cap terbesar di pasar Kripto hanya empat yang menguat yakni XRP, USD Coin, Cardano, dan Binance.

Ambruknya mayoritas kripto dengan cap terbesar memang bisa dipahami. Pasalnya, pasar kripto tengah berada dalam salah satu periode terburuknya.Kondisi ini berbeda dengan 2021 di mana kripto mengalami masa ‘emas’ karena investor maupuntradermasih banyak yang tertarik berinvestasi di aset digital ini.

Pada 2021,Bitcoin dan Ethereum, di mana dua koin digital (token) ‘blue chip’ tersebut berhasil mencetak rekor tertinggi sepanjang masanya atauall time high(ATH) dua kali.

Namun di 2022, keduanya justru berbalik arah dan ambruk.Bitcoin, pada 21 November lalu mencatat level terendahnya sejak November 2020, yakni di US$ 16.291,22.

Pasar kripto sudah mulai membentuk trenbearishkarena bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed) ingin menghentikan kebijakaneasy moneyatau mengubahnya menjadi kebijakanhard moneypada tahun ini.

Hal ini dilakukan oleh The Fed untuk membendung inflasi yang sudah mulai meninggi sejak awal tahun ini. Apalagi, inflasi makin panas setelah adanya perang Rusia-Ukraina, akibat harga-harga komoditas yang mengalami kenaikan cukup signifikan.

Namun, faktor kejatuhan kripto terbesar justru datang dari internal mereka. Skandal demi skandal membuat pasar kripto hancur.

Kasus Terra Luna menjadi kasus terheboh pertama di industri kripto pada tahun ini. Kejatuhan LUNA dan UST pun berimbas ke aset kripto lainnya, termasuk Bitcoin dan Ethereum.

Setelah kejatuhan Luna, muncul kasus Celsius Network dan Three Arrows Capital (3AC). Kasus ini terjadi pada pertengahan tahun ini, tepatnya Juni-Juli 2022.

Pada awal hingga pertengahan November 2022, menjadi awal mula terjadinya krisis FTX dan memicu ‘longsor’ untuk ketiga kalinya di pasar kripto.

TIM RISET CNBC INDONESIA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!