Capaian dua tahun penerapan food estate bagi kelompok tani

Capaian dua tahun penerapan food estate bagi kelompok tani

Haryoto mengatakan, dalam pemanfaatan lahan dengan menanam padi, pihaknya memperoleh sejumlah bantuan mulai dari alat dan mesin pertanian (alsintan), bantuan benih dan pupuk, hingga infrastruktur yang menunjang penjualan hasil panen.

Diakui Hartoyo, adanya kemajuan di infrastruktur jalan produksi memudahkan penjualan hasil panen padi dari lahan yang dikelola. Sebelumnya, hasil panen dari kelompok petani di Blanti Siam diangkut menggunakan kapal.

“Untuk penjualan hasil, itu lebih mudah. Dulu itu kalau kita jual pakai kapal, sekarang alhamdulillah jalan sudah aspal, ini kan lebih mudah kita keluarkan hasil,” ucapnya.

Lain halnya dengan Saiful Rokib, Ketua Kelompok Tani Food Estate di Sidomulyo, Wonosobo, Jawa Tengah. Akses jalan produksi sampai saat ini masih menjadi salah satu kendala yang dialaminya dalam produktivitas pertanian.

Saiful mengatakan, perlu adanya perbaikan jalan di wilayah lahan pertanian yang dikelolanya bersama kelompok tani. Sebab, proses pengangkutan menggunakan sepeda motor menjadi terkendala di jalan licin dengan lokasi pertanian di wilayah pegunungan.

“Sekarang ini kan pakai sepeda motor, sepeda motor ini jalannya licin. Kalau bisa, jalannya dibangun. Ini sudah sangat membantu akses kami. Jalanya perlu dibangun, sehingga tidak licin kalau bawa pupuk, karena kami kan di pegunungan, jalannya turun naik,” ujar Saiful.

Saiful bersama kelompok tani di Sidomulyo, Wonosobo mulai bergabung di program food estate sejak 2021. Dari 38 orang anggota kelompok tani, 35 orang petani menanam komoditas bawang putih di lahan seluas total 16 hektar.

Diakui Saiful, komoditas bawang putih di wilayahnya sempat redup sekitar tahun 1990-an. Namun, pihaknya kembali membangkitkan pertanian bawang putih secara mandiri pada 2008, kemudian semakin dikembangkan dengan adanya program food estate.

“Pertimbangannya di break even point tidak seimbang. Jadi kalau dulu produktivitasnya tinggi, penyerapannya juga belum jelas, pasarnya juga belum jelas. Dengan adanya food estate sudah diatur, sudah disiapkan obstakernya, bibitnya kami terima dari obstaker, stimulusnya dikasih pihak-pihak mitra kami. Sudah ada arah tujuan yang jelas, harganya juga sudah ada perjanjian di depan, nanti jualnya ke mana sudah diatur semua. Jadi ini memudahkan kita untuk bergairah lagi untuk menanam bawang putih,” ujar Saiful.

Saiful mengaku, di samping fasilitas pertanian, pihaknya juga merasakan manfaat dari program ini berupa beragam akses informasi terkait pertanian. Selain informasi budidaya, kata Saiful, kelompok tani juga mendapatkan informasi terkait teknologi pertanian, pemasaran, hingga permodalan.

Akses dan manfaat dari berbagai informasi tersebut, imbuh Saiful, bahkan turut dirasakan oleh petani-petani lain di luar wilayah kelompok tani yang dikelolanya.

“Di food estate ini banyak sekali kalau kami katakan pendidikan-pendidikan di pertanian, kan tidak hanya di budidaya, melainkan ada akses pemasaran, permodalan dari KUR juga bagus. Sehingga ada beberapa pelatihan-pelatihan yang semakin gencar, jadi di wilayah (kelompok tani) lain kena juga (mendapatkan) imbas dari food estate, semuanya baik,” ucapnya.


Artikel ini bersumber dari www.alinea.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *