Canalys: Pasar Smartphone Alami Penurunan Signifikan pada Q2

Canalys: Pasar Smartphone Alami Penurunan Signifikan pada Q2

Jakarta: Canalys melaporkan bahwa penjualan smartphone mengalami penurunan pada Q2 2022. Pengapalan global smartphone menurun menjadi 287 juta unit, dengan Samsung masih menduduki peringkat pertama.
 
Sementara itu, Apple berhasil merebut kembali peringkat kedua dari Xiaomi, sebab perusahaan asal Tiongkok ini mengalami kendala dalam merespon permintaan yang menurun. Sebagai informasi, pada Q2 2022, Samsung mengapalkan sebanyak 61,8 juta unit smartphone, dengan pangsa pasar 21 persen.
 
Sedangkan Apple mengapalkan 49,5 juta unit dan memperoleh pangsa pasar 17 persen, sementara itu Xiaomi mengapalkan sebanyak 39,6 juta unit dan memperoleh pangsa pasar sebesar 14 persen.





Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Samsung dan Apple telah mencatatkan sedikit peningkatan per tahun, namun produsen smartphone asal Tiongkok lah yang kembali menyeret seluruh pasar ke garis merah. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, Samsung mengalami pertumbuhan sebesar enam persen, sedangkan Apple sebesar delapan persen.
 
Xiaomi mengalami penurunan 25 persen. Penurunan tersebut diakibatkan oleh sejumlah lockdown yang diberlakukan pemerintah Tiongkok selama kuartal dua tahun 2022 lalu.
 
Keputusan lockdown ini mengganggu pasar smartphone Tiongkok serta melukai merek lokal, meski merek lokal memiliki posisi yang kuat di negeri tirai bambu tersebut. Analis memprediksi kelangkaan rantai pasokan tidak lagi menjadi masalah mendesak untuk industri smartphone.
 
Sebab, pesanan komponen dilaporkan mengalami penurunan dan pemasuk mengkhawatirkan kelebihan pasokan. Situasi menuntut lebih banyak dari perusahaan untuk beradaptasi dan merencanakan dengan tepat, termasuk langkah seperti penghematan ekstra, dan produk kompetitif yang diluncurkan pada semester kedua.
 
Prediksi untuk semester dua 2022 adalah permintaan tetap lemah meski semester tersebut akan dimeriahkan oleh berbagai peluncuran dan festival penjualan. Sejumlah alasan utama salah satunya adalah kondisi bisnis yang menantang akibat penguatan nilai tukar dollar Amerika Serikat.
 
Alasan utama lainnya yaitu permasalahan geopolitik, permasalahan yang dialami perusahaan Tiongkok di sejumlah pasar besar seperti India, serta tingginya inflasi di seluruh dunia.
 

(MMI)

Artikel ini bersumber dari www.medcom.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *