Bikin Ngeri! Cash is The King Menggema Lagi di RI

Bikin Ngeri! Cash is The King Menggema Lagi di RI

tribunwarta.comJakarta, CNBC Indonesia – Bank Indonesia (BI) menyebutkan lagi cash is the king dalam beberapa kesempatan penting. Terbaru pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia Rabu (30/11/2022), Gubernur BI Perry Warjiyo menyebutkan 5 persoalan yang harus diwaspadai Indonesia, salah satunya cash is the king.

Cash is the king mencerminkan keyakinan jika uang tunai atau cash lebih berharga ketimbang aset investasi lainnya. Fenomena ini terjadi akibat ketidakpastian yang tinggi.

Sebelumnya saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Perry juga menyebut cash is the king sebagai biang kerok keluarnya aliran modal dari pasar obligasi.

“Akibat risiko portofolio naik, mereka memilih menumpuk uangnya di instrumen yang likuid, baik cash dan near cash,” papar Perry, Senin (21/11/2022).

Adapun, near cash assets yaitu deposito dan surat utang.

Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) sepanjang 2022 hingga 25 November lalu, capital outflow di pasar obligasi sekunder mencapai RP 162 triliun.

Namun patut digarisbawahi, dalam kondisi saat ini bukan sembarang uang tunai yang dipegang investor, melainkan dolar AS.

Patut diingat, cash is the king bukan berarti para investor menyimpan dolar AS dalam bentuk tunai saja, tetapi bisa dalam bentuk tabungan, atau instrumen investasi dalam bentuk dolar AS yang likuid.

Cash is the king juga berbeda dengan rush money, yakni kondisi saat masyarakat melakukan penarikan uang besar-besaran dari perbankan.

Adapun cash is the king yang terjadi kali ini akibat sikap agresif bank sentral AS (The Fed) dalam menaikkan suku bunga.

Seperti diketahui, The Fed sudah menaikkan suku bunga sebesar 375 basis poin menjadi 3,75% – 4%. Bahkan, tren kenaikan suku bunga dikatakan masih akan berlanjut hingga awal tahun depan.

Fenomena cash is the king pun muncul, yang membuat dolar AS sangat perkasa. Apalagi dengan menyandang status aset aman (safe haven), dolar AS semakin diburu saat dunia terancam mengalami resesi pada tahun depan.

Alhasil indeks dolar AS menyentuh level tertinggi dalam lebih dari 20 tahun terakhir pada akhir September lalu.

Hal ini membuat nilai tukar rupiah merosot lebih dari 9% sepanjang tahun ini. Pelemahan tersebut memberikan masalah tambahan bagi RI, mulai dari memicu kenaikan inflasi, membengkaknya beban impor migas, hingga beban utang dalam pemerintah dan korporasi dalam bentuk dolar AS.

Tidak hanya rupiah, hampir semua mata uang di dunia terpuruk melawan dolar AS. Dan masalah yang ditimbulkan pun sama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!