Berita Baik di Amerika, Kabar Buruk Bagi Dunia! RI Siap?

Berita Baik di Amerika, Kabar Buruk Bagi Dunia! RI Siap?

tribunwarta.comJakarta, CNBC Indonesia – Pasar keuangan Indonesia bergerak beragam pada perdagangan Kamis (01/12/2022), ditandai dengan terkoreksinya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), sementara nilai tukar rupiah dan pasar obligasi ditutup sukses menguat.

Pada perdagangan Jumat (2/11/2022) pelaku pasar menanti rilis data tenaga kerja Amerika Serikat (AS). Yang menarik, jika pasar tenaga kerja AS membaik, maka akan menjadi kabar buruk bagi dunia, hal ini dan beberapa faktor yang menggerakkan pasar akan di bahas pada halaman 3.

Sementara itu IHSG kemarin ditutup melemah 0.85% ke level 7020.80 di zona merah. Kurva pergerakan IHSG hari ini tak mampu bergerak ke wilayah positif dan bahkan hampir menyentuh level psikologis 7000. Pelemahan IHSG diiringi oleh penjualan bersih atau net sell investor asing total Rp 1,12 triliun di seluruh pasar.

Total volume perdagangan 35,41 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp 17,314 triliun.

IHSG terbebani oleh enam indeks sektoral, di mana pelemahan tertajam terjadi pada sektor teknologi dan sektor keuangan yang masing-masing anjlok 1,47%.

Dari sektor finansial khususnya perbankan, tercatat mayoritas saham bank BUKU 4 mengalami kemunduran. PT Bank Central Indonesia Tbk (BBCA) turun 3.23% menjadi saham yang berdampak besar terhadap pergerakan IHSG.Koreksi saham BBCA sepertinya terjadi karena investor mulai melakukan aksi ambil untung (profit taking).

Saham PT Bank Negara Indonesia Persero (BBNI) anjlok 2.02%. PT Bank Mandiri Persero (BMRI) turun sebesar 1.19% serta PT Bank Rakyat Indonesia Persero (BBRI) melemah 0.80%.

Dinamika IHSG tidak searah dengan pergerakan bursa saham Asia yang ditutup cerah. Indeks Nikkei 225 Jepang ditutup melesat 0,92% ke posisi 28.226,08, Hang Seng Hong Kong menguat 0,75% ke 18.736,44, Shanghai Composite China bertambah 0,45% ke 3.165,47, Straits Times Singapura naik tipis 0,07% ke 3.292,73, ASX 200 Australia melonjak 0,96% ke 7.354,4, dan KOSPI Korea Selatan terapresiasi 0,3% menjadi 2.479,84.

Berbeda halnya dengan IHSG, nilai tukar rupiah justru berhasil menguat terhadap dolar AS kemarin, dengan begitu Mata Uang Garuda telah terapresiasi selama dua hari beruntun.

Sepanjang perdagangan, Mata Uang Garuda tidak pernah mengalami pelemahan, bahkan sempat menguat hingga 1,24% ke Rp 15.535/US$. Di penutupan perdagangan posisi rupiah sedikit terpangkas, berada di Rp 15.560/US$, menguat 1,08% di pasar spot, melansir data Refinitiv.

Penguatan rupiah terjadi seiring dengan diburunya Surat Berharga Negara (SBN) yang ditandai dengan turunnya imbal hasil (yield) di seluruh tenor SBN acuan.

Melansir data dari Refinitiv, SBN tenor 5 tahun kembali menjadi yang paling besar penurunannya pada hari ini yakni merosot 20,2 basis poin (bp) ke posisi 6,116%.

Sedangkan, SBN tenor 10 tahun yang merupakan SBN acuan (benchmark) menjadi yang paling rendah penurunannya pada hari ini, yakni turun 3,7 bp menjadi 6,872%.

Yield berlawanan arah dari harga, sehingga turunnya yield menunjukkan harga obligasi yang sedang menguat, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

Sentimen yang datang dari dalam negeri, salah satunya rilis data inflasi per November 2022 yang melandai.

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka inflasi per November 2022, melandai ke 5,42% secara tahunan (yoy) ketimbang bulan sebelumnya di 5,71%.

Secara tahun kalender inflasi mencapai 4,82% dan dibandingkan dengan bulan sebelumnya 0,09%. Pendorong terjadinya inflasi adalah bahan bakar minyak (BBM), transportasi dan pangan.

“Komoditas penyumbang inflasi tertinggi ada seperti bensin, BBM, tarif angkutan udara, rokok, beras, telur ayam ras, tarif angkutan dalam kota,” ungkap Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa (Disjas) BPS, Setianto dalam konferensi pers, Kamis (1/11/2022).

Sementara itu, inflasi inti diperkirakan merangkak naik menjadi 3,45% pada November (yoy) dibandingkan 3,31% pada Oktober.

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 12 institusi memperkirakan inflasi November akan menembus 0,20% dibandingkan bulan sebelumnya (mtm).

Kondisi ini berbanding terbalik dengan catatan pada bulan lalu di mana Indonesia mencatatkan deflasi sebesar 0,11%.

Hasil polling juga memperkirakan inflasi secara tahunan (yoy) akan menembus 5,54% pada bulan ini.

Namun, S&P Global pagi ini melaporkan aktivitas sektor manufaktur yang dilihat dari purchasing managers’ index (PMI) mengalami pelambatan ekspansi yang cukup tajam. Pada November, PMI manufaktur dilaporkan sebesar 50,3, turun dari bulan sebelumnya 51.8.

PMI menggunakan angka 50 sebagai ambang batas. Di bawahnya berarti kontraksi, sementara di atas 50 adalah ekspansi. Ketika kontraksi terjadi, maka pemutusan hubungan kerja (PHK) massal berisiko semakin meluas.

S&P Global melaporkan penyebab penurunan tersebut terjadi akibat rendahnya demand, yang menjadi indikasi pelambatan ekonomi global, bahkan menuju resesi di tahun depan.

Akibat rendahnya demand, output juga rendah, dan tingkat perekrutan karyawan mulai melambat. Satu lagi indikasi PHK massal berisiko meluas.

“Keyakinan bisnis secara keseluruhan menurun pada November, menunjukkan sektor manufaktur berisiko mengalami kontraksi kecuali ada peningkatan demand yang signifikan,” kata Jingyi Pan, economic associate director di S&P Global Market Intelligence.

Selain itu, sentimen global juga ditopang oleh pidato Ketua Fed Jerome Powell yang mengindikasikan bahwa Fed akan mulai menurunkan besaran kenaikan suku bunga acuan pada 13-14 Desember 2022.

“Dengan demikian, masuk akal untuk memoderasi laju kenaikan suku bunga kami saat kami mendekati tingkat pengekangan yang cukup untuk menurunkan inflasi. Waktu untuk memoderasi laju kenaikan suku bunga mungkin akan datang segera setelah pertemuan Desember” tuturnya dikutip CNBC International.

HALAMAN SELANJUTNYA >>> Wall Street Tertekan Jelang Rilis Data Tenaga Kerja AS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!