Benarkah Stasiun Kereta Cepat di China Mirip RI, Lokasinya Jauh di Pinggiran Kota?

Benarkah Stasiun Kereta Cepat di China Mirip RI, Lokasinya Jauh di Pinggiran Kota?

tribunwarta.com – Kereta Cepat Jakarta Bandung terus menuai panen kritik. Salah satunya yakni terkait lokasi stasiunnya yang berada jauh di pinggiran kota meski harga tiketnya terbilang mahal.

Kereta cepat yang diberi nama Komodo Merah itu tak sampai ke Kota Bandung. Sebagai alternatif, penumpang tujuan Bandung dan Cimahi bisa turun di Padalarang dan melanjutkan perjalanan dengan KA feeder maupun KA lokal.

Untuk mengejar target penumpang kereta cepat, belakangan muncul wacana untuk menghapus KA reguler Argo Parahyangan yang dioperasikan PT KAI (Persero) relasi Stasiun Gambir – Stasiun Bandung.

Ide pembangunan stasiun kereta cepat di Padalarang sendiri baru muncul belakangan. Awalnya, stasiun akan dibangun di kawasan Walini milik PTPN.

Namun dengan berbagai pertimbangan, termasuk akses transportasi ke Bandung, Padalarang dipilih. Di Padalarang, juga sudah ada stasiun KA reguler yang melayani keberangkatan KA lokal Bandung Raya.

Setali tiga uang, akses ke Stasiun Halim di Jakarta juga belum sebaik stasiun kereta reguler seperti Gambir dan Pasar Senen yang bisa dicapai dengan Trans Jakarta, KRL, maupun moda transportasi umum lainnya. Akses ke kawasan Halim juga terkenal dengan kemacetan parah seperti di Cawang dan Pancoran.

Stasiun kereta cepat di China

Pengamat transportasi, Djoko Setijowarno, menilai jika kondisinya demikian, stasiun kereta cepat tak ubahnya seperti bandara yang lazimnya berada di pinggiran kota.

Di negara asalnya, dengan keunggulan letak stasiunnya di tengah kota, kereta cepat adalah pesaing utama pesawat udara yang memang diperuntukan untuk rute jarak jauh.

“Kereta Cepat Jakarta-Bandung proyek yang nanggung, karena apa? Stasiun terakhirnya ada di pinggiran keramaian, bukan di Kota Bandung,” ujar Djoko, dikutip pada Minggu (4/12/2022).

“Ibaratnya lucu, dia kereta cepat sekitar 30 menit dari Jakarta ke Bandung, tapi cuma sampai Tegalluar,” kata Djoko lagi.

Trase KCJB yang tidak sampai ke Bandung dikarenakan terkendala biaya pembebasan lahan. Tanpa masalah itu saja, biaya pembangunan kereta cepat sudah membengkak sedari awal dan terpaksa ditambal APBN.

Kondisi ini tentu berbeda dengan ketika masyarakat menggunakan kereta reguler Argo Parahyangan. Meski waktu tempuhnya sekitar 3 jam, namun penumpang cukup duduk manis dan bisa turun di jantung Kota Bandung, harga tiketnya pun jauh lebih murah ketimbang kereta cepat.

Untuk diketahui, harga tiket KA Argo Parahyangan saat ini dibanderol di kisaran Rp 90.000 sampai Rp 200.000 tergantung kelasnya. Sementara tiket KCJB rute terjauhnya Rp 350.000.

Sebagai perbandingan, di negara asalnya yakni China, stasiun kereta cepat yang menghubungkan dua kota terbesar Beijing dan Shanghai, berada di pusat kota sebagaimana stasiun kereta api yang sudah lebih dulu eksis.

Di Beijing, lokasi stasiun ada di Beijing South Railway Station yang berada di Distrik Fengtai. Sementara di Shanghai, stasiunnya adalah Shanghai Hongqiao Railway Station.

Begitu pun Stasiun HSR di kota-kota besar lainnya seperti Guangzhou, Xi’an, dan Wuhan, yang masing-masing letaknya di distrik Panyu, Weiyang dan Hongshan, ketiganya berada di tengah kota.

Agar tidak sepi

Djoko juga mengatakan agar diminati penumpang, KCJB harus terintegrasi dengan angkutan umum yang menjangkau pemukiman.

“Pemkab Karawang, Pemkab Bandung dan Pemkot Bandung harus menyiapkan fasilitas angkutan umum dari kawasan perumahan dan pemukiman melewati ke stasiun,” kata Djoko.

Dengan lokasi KCJB yang relatif jauh di pinggiran Kota Bandung, rasanya sulit mencapai target penumpang yang diharapkan tanpa akses transportasi yang mudah.

“Aksesibilitas dan kelanjutan perjalanan hingga mendekati perumahan dan pemukiman akan menjadi kunci keberhasilan penumpang kereta cepat,” beber Djoko.

Menurut dia, Kota Bandung selama ini sudah dibantu Kemenhub mengoperasikan 5 koridor Bus Trans Metro Pasundan dengan skema pembelian layanan (buy the service).

“Mulai tahun 2023 akan dibangun jaringan Bus Rapid Transit (BRT) di Kota Bandung bantuan Kemenhub dan Bank Dunia,” ungkap Djoko.

Ridwan Kamil maklum

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengaku tak mempersoalkan tidak adanya stasiun Kereta Cepat Jakarta-Bandung di Kota Bandung.

Sebab, warga Kota Bandung yang ingin menggunakan Kereta Cepat difasilitasi kereta feeder dari Stasiun Bandung ke Stasiun Hub Padalarang.

“Jadi nanti pakai Kereta Cepat ke Padalarang, dari Padalarangnya naik kereta khusus. Jadi misalnya orang Bandung ke Kebon Kawung (Stasiun Bandung) ya dia naik kereta khusus sampai Padalarang baru ngabret naik Kereta Cepat sambil menunggu nanti investasinya memungkinkan membangun fundamentalnya di Tegalluar,” ujar Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil di Gedung Sate, Kota Bandung, beberapa waktu lalu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!