Belajar dari Kasus FTX, Kepercayaan jadi Modal Utama Bursa Kripto

Belajar dari Kasus FTX, Kepercayaan jadi Modal Utama Bursa Kripto

tribunwarta.com – Fenomena-fenomena mengenai kripto yang masif terjadi pada tahun 2022, sangat berpengaruh terhadap naik turunnya harga kripto. Indodax, selaku pelaku industri dan crypto exchange lokal pertama di Indonesia pun memberikan pendapatnya mengenai fenomena yang Indodax lewati di 2022.

Dikutip dari video Indodax Room Special Nataru 2022 yang tayang di kanal youtube Indodax, Senin (26/12/2022), CEO Indodax Oscar Darmawan mengatakan bahwa tahun 2022 adalah tahun dimana market kripto berada dalam fase winter. Pelajaran yang Indodax ambil dari fenomena di tahun 2022 adalah setiap exchange perlu menjaga kepercayaan member.

“Bisnis exchange sendiri hanya sebagai wadah untuk mempertemukan pembeli dan penjual. Dengan demikian, Uang nasabah tidak boleh disentuh sama sekali. Exchange yang tidak menyentuh uang member akan menjadi exchange yang bertahan dan tidak akan mengalami kesulitan likuiditas,” ujarnya.

Hal ini, katanya, dapat dibuktikan dengan adanya proof of reserve dan proof of liability yang baik. Sehingga jika terjadi withdraw oleh para nasabah, exchange akan tetap berjalan secara solid.

“Indodax adalah exchange yang cukup konservatif dan bisnis kita adalah bisnis spot,” jelas Oscar.

Untuk diketahui, kasus FTX yang terjadi beberapa waktu lalu tentu sangat berpengaruh terhadap pasar kripto di 2022 yang sedang dalam fase bearish. Sampai saat ini, Indodax belum tahu lembaga mana saja yang ikut menaruh uangnya di FTX.

“Ini mirip seperti kejadian 2014 silam yang menimpa exchange terbesar saat itu yaitu Mt Gox. Ketika Mt Gox pailit, banyak bursa lainnya yang ikut terseret karena Aset bursa tersebut banyak yang disimpan disitu dan tidak bisa cair dari Mt Gox. Kejadian FTX dan Mt Gox efeknya sistematik dan domino. Saya perkirakan di Q1 dan Q2 2023 kita bisa melihat keseluruhan damage dari FTX ini,” jelas Oscar.

Melihat pengaruhnya terhadap bursa kripto, Oscar bilang selama bursa kripto tersebut berjalan secara konservatif alias hanya sebagai wadah mempertemukan penjual dan pembeli dan tidak menaruh aset nasabah di tempat lain, maka kasus FTX ini tidak akan begitu berpengaruh terhadap kejatuhan suatu bursa.

Akibat adanya masalah likuiditas pada kasus FTX tersebut, membuat banyaknya exchange mengeluarkan proof of reserve untuk membuktikan bahwa exchange tersebut solid. Indodax sebagai crypto exchange pertama di Indonesia, sudah menampilkan alamat wallet Dompet Bitcoin dan alamat Etherscan.io nya agar masyarakat luas bisa mengakses dan melihat reserve Indodax. Sampai saat ini, Indodax merupakan satu satunya exchange dalam negeri yang melakukan hal ini.

“Proof of reserve itu mudah dan seharusnya semua exchange bisa melakukan. Indodax sudah menampilkan alamat wallet kita sehingga user bisa melihat aset yang ada di sistem Indodax. Ketika exchange global lain mengeluarkan, kita juga ikut mengeluarkan. Kita bisa membuktikan bahwa kita solid. Itu merupakan hal yang penting. Berbicara mengenai proof of liability artinya kita mematchingkan jumlah deposit member dengan aset yang kita miliki. Kita sedang ke arah proof of liability dan sedang engage ke auditor untuk membantu kami sebagai third party untuk mengevaluasi seluruh sistem Indodax dan memberikan laporan ke publik bahwa Indodax sudah sesuai dengan proof of liability,” tutur Oscar.

Sementara terkait market yang mengalami fase bearish di tahun 2022, Oscar berpendapat bahwa jika dilihat secara historikal, momen kripto sedang turun adalah masa-masa yang tepat untuk mengakumulasikan kripto dan untuk dijual nantinya ketika harga naik.

“Kami mengajak para trader kripto untuk mulai mengakumulasi kripto dengan dollar cost averaging di masa sebelum halving sebagai waktu paling tepat untuk membeli kripto karena ada potensi kenaikan setelah halving bitcoin yang akan terjadi di awal 2024,” ungkapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *