Awal Pekan Kembali Suram, Rupiah Keok Lawan Dolar AS!

Awal Pekan Kembali Suram, Rupiah Keok Lawan Dolar AS!

tribunwarta.comJakarta, CNBC IndonesiaRupiah kembali mencatatkan perlemahan melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan awal pekan ini, Senin (12/12/2022). Para pelaku pasar tengah cemas menanti data inflasi yang diperkirakan akan tetap meninggi.

Mengacu pada data Refinitiv, Mata Uang Garuda dibuka terkoreksi 0,05% ke Rp 15.590/US$. Kemudian, pukul 11:00 WIB rupiah melanjutkan koreksi 0,37% ke Rp 15.640/US$.

Pada akhirnya, rupiah mengakhiri perdagangan hari ini di Rp 15.626/US$, melemah 0,28% di pasar spot. Untuk diketahui, rupiah masih mencatatkan berada tren yang tinggi selama 2,5 tahun terakhir.

Perlemahan rupiah hari ini sejalan dengan mayoritas mata uang Asia. Lagi-lagi kekhawatiran tingginya inflasi masih terus menghantui pasar keuangan, termasuk Indonesia.

Sementara itu, Indeks harga produsen (IHP) November menunjukkan harga grosir yang lebih tinggi dari perkiraan, naik 0,3% secara mtm dan 7,4% dibandingkan tahun sebelumnya (yoy).

Sementara, Core PPI, yang tidak termasuk makanan dan energi, juga melampaui ekspektasi di mana yang tidak termasuk makanan dan energi, naik 0,4%, mengalahkan estimasi 0,2%.Sontak, hal tersebut meningkatkan kecemasan para pelaku pasar, bahwa inflasi belum benar-benar melandai.

Sehingga, indeks dolar AS kembali diburu. Pukul 15:00 WIB, indeks dolar AS bergerak menguat 0,19% ke posisi 105.

Analis terkemuka juga menyatakan kekhawatirannya bahwa bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) dapat mempertahankan kebijakan yang ketat dalam waktu yang cukup lama.

“Ada sedikit kekhawatiran tentang bagaimana inflasi akan terus-menerus tinggi dan akan mendorong Fed untuk mempertahankan kebijakan pada tingkat yang lebih ketat bahkan lebih lama dari perkiraan sebelumnya,” kata Carol Kong, Ahli Strategi Mata Uang di Commonwealth Bank of Australia dikutipReuters.

“Jika dia berbicara lebih banyak tentang risiko terhadap ekonomi… saya pikir itu mungkin akan dianggapdovisholeh pasar dan tentu saja pasar menyukai komentar dovish dan bagaimana FOMC akan lebih memperhatikan risiko penurunan ekonomi,” kata Kong CBA.

Di sisi lain, rilis data pekan ini menjadi penting bagi para pelaku pasar sebab 13 Desember mendatang akan ada rilis data inflasi yang di ukur dari Indeks Harga Konsumen (IHK) per November 2022. Konsensus analis Trading Economics memperkirakan angka inflasi AS akan kembali melandai ke 7,3%, dari bulan sebelumnya di 7,7% secara tahunan.

Sehari setelahnya, pada 14 Desember, mata tertuju pada kebijakan moneter The Fed. Bank sentral paling powerfull di dunia ini akan mengumumkan kebijakan moneternya.

Sebagai informasi, Berdasarkan CME Group, sebanyak 74,7% analis memprediksikan Fed akan menaikkan suku bunga acuannya sebesar 50 bps dan mengirim tingkat suku bunga menjadi 4,25%-4,5%.

Dari dalam negeri, investor akan disuguhkan dengan rilis neraca perdagangan untuk periode November 2022. Sebulan sebelumnya, BPS mengumumkan surplus negara perdagangan sebesar US$ 5,67 miliar per Oktober 2022.

Sementara, Ekspor Indonesia pada Oktober 2022 tumbuh 12,30% (year on year/yoy) menjadi US$ 24,81 miliar. Dibandingkan bulan sebelumnya ada kenaikan sebesar 0,13%.Sementara impor mencapai 19,14 miliar. Tumbuh 17,44% (year on year/yoy), namun kontraksi 3,40% dibandingkan bulan sebelumnya.

TIM RISET CNBC INDONESIA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!