Akhir Tahun, Ekonom Proyeksi Rasio Utang Tembus 39% terhadap PDB

Akhir Tahun, Ekonom Proyeksi Rasio Utang Tembus 39% terhadap PDB

tribunwarta.com – JAKARTA – Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet memproyeksi, hingga akhir tahun rasio utang masih di kisaran 38-39 % terhadap PDB.

Artinya, proyeksi rasio utang ini masih relatif terjaga dari ambang batas maksimal rasio utang 60% terhadap PDB. Proyeksi ini juga tidak terlampau jauh dengan data realisasi rasio utang hingga akhir Oktober yang tercatat sebesar 38,36%.

“Peningkatan utang saya kira juga tidak terlepas dari fluktuasi nilai tukar, yang pada saat Oktober, nilai tukar sempat mengalami pelemahan,” ucapnya kepada Investor Daily, baru-baru ini.

Adapun utang pemerintah mencapai 7.496,70 per 31 Oktober 2022. Jumlah utang itu naik Rp 76,23 triliun dari posisi bulan sebelumnya yang sebesar Rp 7.420,47 triliun.

Menurutnya pelemahan nilai tukar menyebabkan utang dengan denominasi valas, dan bersifat variable rate, akhirnya ikut berubah.

“Di saat yang bersamaan, di Oktober peningkatan belanja pemerintah semakin meningkat jika dibandingkan dengan kuartal pertama, sehingga kebutuhan pembiayaan tentu menjadi semakin bertambah,” tegasnya.

Menurutnya, setelah pandemi, pemerintah berada pada tahap menurunkan rasio utang, sehingga dengan kondisi dimana rasio utang belum kembali seperti sebelum pandemi terjadi.

“Maka posisi pemerintah terkait utang perlu berada dalam posisi waspada. Terkait, dengan APBN dalam menanggung bunga utang, saya kira perlu extra effort, terutama dalam menindaklanjuti proses reformasi perpajakan,”tegasnya.

Kelanjutan reformasi pajak, akan menjadi faktor penting dalam menanggung resiko beban bunga utang dalam jangka panjang.

Kendati demikian, Yusuf menilai utang masih berpotensi terus diturunkan di tahun depan karena periode konsolidasi fiskal secara otomatis akan menurunkan proporsi belanja. Sehingga dapat menurunkan kebutuhan pembiayaan melalui utang.

“Dalam jangka panjang, eksekusi belanja pemerintah juga menjadi penting diperhatikan dalam kaitannya dengan utang. Jangan sampai, hutang yang sudah dilakukan tidak diimbangi dengan eksekusi belanja yang tidak optimal (tidak terserap secara optimal),” tambahnya.

Ia menyarankan agar pemerintah menjaga perencanaan anggaran belanja agar optimal, dengan cara itu penggunaan utang juga dapat dilihat efektivitasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!