Konsinyasi adalah Alternatif Sistem Jualan, Ini Kelebihan dan Kekurangannya

Konsinyasi adalah Alternatif Sistem Jualan, Ini Kelebihan dan Kekurangannya

Konsinyasi adalah istilah yang kerap muncul dalam bisnis jual beli barang. Turut dikenal dalam bahasa Inggris ‘consignment’, kesepakatan ini sering diterapkan dalam business plan perusahaan barang. Pada sistem konsinyasi, umumnya pemilik akan menitipkan produknya untuk dijual oleh pihak penyalur.


Konsinyasi Adalah…

e-commerce-shop-online-homepage-sale-concept-konsinyasi-adalah

(Image source: Freepik)

Pelaku usaha ritel mungkin tidak asing dengan sistem titip jual. Model bisnis ini melibatkan dua pihak, yakni pemilik produk (consignor) dan pengecer (consignee) yang menjual produk. Agar lebih cepat terjual, produk pun bisa dipasarkan secara online dengan layanan pembuatan website dari GoStore. Terlebih, GoStore memaksimalkan jangkauan pasar hingga berbagai platform yang membuat produk dikenal masyarakat luas.

Lantas, apakah konsinyasi sama dengan dropship dan resale? Meski sering dikira serupa, consignment berbeda dari kedua model tersebut. Perbedaan yang paling mencolok terletak pada keuntungan yang didapatkan penyalur. Sebagai dropshipper atau reseller, keuntungan didapatkan dari menaikkan harga barang sesuai persentase yang ditentukan sendiri. Sementara itu, keuntungan pengecer dalam konsinyasi berupa komisi dari pemilik produk.

Keuntungan yang diperoleh consignee dalam penyaluran produk tertera pada kesepakatan antara kedua belah pihak. Perjanjian titip jual memuat persentase komisi yang diberikan oleh consignor dan periode penjualan sebagai pedoman waktu pembayaran komisi serta hasil penjualan. Lantas, apa saja kelebihan dan kekurangan dari sistem titip jual?

Baca juga: 7 Tips dan Cara Jualan Online Bagi Pemula agar Cepat Laku


Kelebihan Sistem Titip Jual

Terdapat dua pihak yang memperoleh keuntungan sesuai perannya dalam kesepakatan konsinyasi, yakni consignor dan consignee. Untuk rincian lebih lengkap, simak kelebihan konsinyasi berikut ini.

1. Bagi pemilik produk (consignor)

  • Dapat memfokuskan kegiatan pada pengembangan produk.
  • Menghemat biaya pemasaran produk.
  • Menghemat biaya operasional, seperti sewa gudang dan toko serta upah karyawan.
  • Dapat mempelajari strategi penjualan orang lain.
  • Memperoleh awareness masyarakat untuk produk yang dimilikinya.

2. Bagi pengecer (consignee)

  • Memperoleh komisi penjualan dengan risiko bisnis relatif rendah.
  • Tidak perlu membayar kepada pemilik produk sebelum terjual, jadi tidak mungkin rugi.
  • Tidak perlu memikirkan stok barang.
  • Mudah menambah varian produk .
  • Bisa retur produk ke pemilik jika barang tidak laku

Secara sederhana, konsinyasi adalah metode yang banyak dipilih karena menawarkan keuntungan  bagi pemilik produk dan penjual. Pemilik produk hanya perlu menyediakan barang untuk dijual, sementara pengecer tinggal memasarkan produk. Pengecer kemudian menerima komisi dari consignor atas jasanya menyalurkan produk kepada pembeli. 

Baca juga: 8 Manfaat E-Commerce Bagi Anda yang Ingin Sukses Jualan Online


Kekurangan Sistem Titip Jual

Layaknya suatu sistem, penerapan konsinyasi juga memiliki beberapa kekurangan. Pihak-pihak yang menyetujui perjanjian mempertimbangkan kemungkinan cost dan reward terlebih dahulu. Sebelum menerapkan konsinyasi, ada baiknya Anda memahami kekurangannya sebagai berikut.

1. Bagi pemilik produk (consignor)

  • Tidak memiliki kendali atas penjualan.
  • Barang bisa dikembalikan jika tidak laku.
  • Tidak bisa langsung menerima keuntungan penjualan karena harus menunggu sampai periode penjualan habis.
  • Tidak bisa selalu memastikan pengecekan kualitas (quality control) terhadap produk.
  • Perlu mempersiapkan rencana cadangan (backup plan) apabila stok produk menumpuk karena tidak terjual

2. Bagi pengecer (consignee)

  • Tidak bisa menentukan keuntungan atau harga jual sesuai keinginan sendiri.
  • Tidak mendapatkan keuntungan jika barang tidak terjual.
  • Produk yang dijual adalah milik orang lain, bukan hasil produksi atau brand milik sendiri.
  • Harus menunggu pembayaran komisi sesuai kesepakatan periode penjualan.
  • Tidak memiliki ruang yang luas untuk berinovasi karena menjual produk milik pihak lain.

Sebagian besar kekurangan yang dimiliki oleh konsinyasi berasal dari adanya kemungkinan barang tidak laku. Jika produk tidak terjual, pemilik produk terpaksa menerima pengembalian produk tersebut, sementara penjual tidak jadi memperoleh komisi penjualan. Namun, Anda tidak harus mengkhawatirkan risiko ini. Untuk meminimalisasi kemungkinan tersebut, simak tips sukses bisnis konsinyasi di bawah ini!


Tips Sukses Bisnis Konsinyasi

Cara membuat NPWP online -1-konsinyasi-adalah

Kesepakatan konsinyasi bisa dinilai sebagai model bisnis yang menarik. Survei pun menunjukkan tren peningkatan pelaku consignment sebesar 7 persen per tahun sejak pandemi dimulai. Meski begitu, diperlukan pertimbangan yang matang sebelum memutuskan untuk menjadi consignor ataupun consignee.

Hubungan konsinyasi terjalin berdasarkan kontrak bisnis antara dua belah pihak. Dalam membuat kesepakatan, masing-masing pihak berusaha untuk memaksimalkan keuntungan. Nah, Anda disarankan untuk memilih mitra konsinyasi dengan keselarasan visi dan misi, serta dalam hal produk. Jenis produk yang diperjualbelikan dalam perjanjian consignment dapat disesuaikan dengan keadaan pasar dan minat kedua belah pihak.

Baca juga: 11 Ide Barang yang Cepat Laku Dijual Online Tahun 2022


Setelah menemukan mitra yang cocok, Anda selanjutnya perlu membuat perjanjian yang jelas. Informasi seputar kontrak tertera dengan lengkap pada business plan konsinyasi. Pastikan isi perjanjian tidak memiliki celah untuk hal-hal yang tidak diinginkan dan tentunya membawa keuntungan bagi Anda.

social commerce


Artikel ini bersumber dari blog.mokapos.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *