Pemimpin ProKemerdekaan Kashmir Meninggal dalam Tahanan Polisi

Pemimpin ProKemerdekaan Kashmir Meninggal dalam Tahanan Polisi

Altaf Ahmad Shah, seorang politisi terkemuka di Kashmir yang menentang pemerintahan India atas wilayah yang disengketakan selama beberapa dekade, dan telah dipenjara oleh pihak berwenang India selama lima tahun terakhir, meninggal saat berada dalam tahanan polisi, kata keluarganya, Selasa (11/10). Ia berusia 66 tahun.

Shah ditangkap oleh pihak berwenang India pada 2017 terkait “kasus pendanaan teror” dan ditahan di penjara Tihar, New Delhi, di mana ia didiagnosis menderita kanker ginjal pada September. Setelah permohonan keluarga berulang kali kepada pejabat senior pemerintah, termasuk surat kepada Menteri Dalam Negeri India Amit Shah, pemimpin yang dipenjara itu dipindahkan ke All India Institute of Medical Sciences di New Delhi untuk perawatan, di mana ia meninggal pada Senin malam.

Para pejabat penjara Tihar tidak segera mengomentari kematian Shah. Shah adalah pemimpin separatis keempat dari Kashmir yang dikuasai India yang tewas dalam tahanan polisi dalam tiga tahun ini. Ia adalah anggota Tehreek-e-Hurriyat, kelompok politik anti-India, dan salah satu pendukung setia tuntutan penggabungan Kashmir dengan Pakistan.

FOTO FILE: Syed Ali Shah Geelani, ketua faksi garis keras Konferensi Hurriyat (Kebebasan) Kashmir, dalam konferensi pers di Srinagar 7 Agustus 2010. (REUTERS/Fayaz Kabli)

FOTO FILE: Syed Ali Shah Geelani, ketua faksi garis keras Konferensi Hurriyat (Kebebasan) Kashmir, dalam konferensi pers di Srinagar 7 Agustus 2010. (REUTERS/Fayaz Kabli)

Tahun lalu, ayah mertua Shah dan pemimpin anti-India paling setia di kawasan itu, Syed Ali Geelani, 91, meninggal di kediamannya di Srinagar setelah hampir 10 tahun menjalani tahanan rumah. Sebelumnya pada tahun 2021, pemimpin separatis Mohammed Ashraf Sehrai, 78, meninggal karena berbagai penyakit saat berada di penjara.

India telah menangkap ribuan warga Kashmir di bawah undang-undang ketat yang diberlakukan ketika pemberontakan bersenjata meletus yang menuntut kemerdekaan wilayah itu atau bergabung dengan Pakistan, yang mengendalikan bagian lain wilayah itu. Kelompok-kelompok HAM menuding India menggunakan undang-undang tersebut untuk meredam pembangkang dan menghindari sistem peradilan, sehingga merusak akuntabilitas, transparansi, dan penghormatan terhadap HAM.

India menganggap pemberontakan bersenjata sebagai perang proksi oleh Pakistan dan menganggapnya sebagai teroris yang disponsori negara. Sebagian besar Muslim Kashmir menganggapnya sebagai perjuangan kebebasan yang sah dan mendukung tujuan para pemberontak agar wilayah yang terbagi itu bersatu, baik di bawah pemerintahan Pakistan atau sebagai negara merdeka.

Putri Shah, Ruwa Shah, mencuit pernyataan tentang kondisi ayahnya pada 21 September. Ia mengatakan ayahnya membutuhkan “rumah sakit yang layak” dan bukan ICU penjara. Dalam surat yang ditulis ke Pengadilan Tinggi Delhi, ia juga meminta pembebasan ayahnya dengan jaminan karena kesehatannya yang buruk.

Shah pertama kali dipindahkan ke Rumah Sakit Dr. Ram Manohar Lohia di New Delhi, menurut Ruwa, yang mengatakan fasilitas kesehatan itu tidak merawat pasien kanker. Ia kemudian dipindahkan ke All India Institute of Medical Sciences, fasilitas kesehatan utama India, setelah intervensi dari Pengadilan Tinggi Delhi. [ab/uh]

Artikel ini bersumber dari www.voaindonesia.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *