Perlukah Indonesia Buka Keran Impor Beras?

Perlukah Indonesia Buka Keran Impor Beras?

tribunwarta.com – Pemerintah berencana akan mengimpor beras lantaran stoknya sudah menipis. Berdasarkan data Perum Bulog per 22 November 2022, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) hanya 426.573 ton.

Sementara jumlah stok beras yang harus dimiliki pemerintah hingga akhir tahun untuk ketahanan pangan harus mencapai 1,2 juta ton. Dengan kondisi itu, perlukah Indonesia impor beras ?

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Hasran mengatakan, sebernarnya impor beras perlu dipertimbangkan jika Indonesia dihadapkan pada tiga kondisi.

Pertama ketersediaan cadangan beras tidak mencukupi hingga waktu panen tiba. Kedua, harga beras mengalami peningkatan, baik di pasar tradisional maupun di supermarket. Ketiga, harga beras nasional lebih mahal dibandingkan harga beras di pasar internasional.

“Ketersediaan stok yang mencukupi akan membantu menjaga kestabilan harga beras. Kemudian harga beras yang stabil diharapkan dapat tetap terjangkau oleh masyarakat berpenghasilan rendah,” ujarnya dalam siaran persnya, Selasa (29/11/2022).

Hasran menuturkan, biasanya menjelang akhir tahun, ada kecenderungan kenaikan harga beras yang berulang setiap tahunnya karena adanya peningkatan permintaan jelang Natal dan Tahun Baru. Lalu, tidak lama lagi Indonesia akan masuk ke bulan Ramadhan dan Idul Fitri.


“Sementara sebagaimana yang kita lihat, krisis iklim sudah berdampak pada sektor pertanian dengan berkurangnya produksi, yang sangat mungkin terjadi akibat tertundanya musim panen dan musim tanam,” kata Hasran.

Sementara berdasarkan data yang diterimanya, cadangan beras di tingkat nasional pada pekan keempat september 2022 mencapai 6,8 juta ton. Stok beras ini diperkirakan hanya mampu bertahan selama 81 hari, dengan asumsi pemakaian stok beras per harinya mencapai 84.330 ton.

“Musim panen baru akan terjadi pada Februari sehingga masih ada permintaan beras selama sebulan yang harus dipenuhi,” ungkap Hasran.

Belum lagi masalah harga. Dia menyebutkan, di pasar tradisional, data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) menunjukkan bahwa terjadi kenaikan secara bulanan pada harga beras yang terjadi sejak bulan Juli.

Sejak juli 2022, harga beras di pasar tradisional mengalami kenaikan sebesar 3,46 persen.

Dibandingkan bulan September, harga beras di pasar tradisional naik dari Rp 11.750 per kilogram pada September menjadi Rp 11.950 per kilogram pada Oktober. Selain itu, harga beras bulan Oktober merupakan yang tertinggi dalam setahun terakhir.

Dia pun menilai kenaikan harga di pasar tradisional ini berdampak terhadap keluarga berpenghasilan rendah di Indonesia karena mayoritas keluarga berpenghasilan rendah menghabiskan sebagian penghasilannya untuk konsumsi pangan.

Jika dibandingkan dengan beberapa negara di ASEAN seperti Filipina dan Thailand, harga beras di Indonesia juga masih cenderung mahal. Proses produksi yang belum efisien bisa menjadi perhatian untuk diatasi supaya proses produksi beras menjadi lebih efisien, harganya terjangkau dan kualitasnya berdaya saing.

“Melihat berbagai faktor tadi, tidak ada salahnya jika pemerintah mempertimbangkan opsi impor beras dengan tujuan untuk menjaga kestabilan harga di dalam negeri yang masih cenderung tinggi. Impor ini juga perlu dilakukan untuk menjamin ketersediaan hingga akhir tahun dan sebelum musim panen tiba,” jelas dia.

Terkait petani, CIPS mendorong upaya peningkatan produktivitas pangan dan peningkatan kapasitas petani untuk terus dilakukan. Keduanya diperlukan dan dapat dilakukan lewat adopsi teknologi pertanian, modernisasi dan juga investasi.

“Proses transfer teknologi yang terjadi di dalam investasi diharapkan bisa membuat praktek ini lebih mudah diadaptasi oleh petani,” pungkas Hasran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!