30 nama sastrawan RI masuk daftar pencarian terbanyak Google

30 nama sastrawan RI masuk daftar pencarian terbanyak Google

tribunwarta.com – Sebanyak 30 nama sastrawan Indonesia telah dinyatakan masuk ke dalam daftar topik terbanyak pada mesin pencarian Google berdasarkan survey yang dilakukan oleh PR Agency XYZ+.

“Betapa pengaruh para penulis yang lahir pada era sebelum kemerdekaan tetap melekat bahkan di era digital saat ini. Sementara para penulis yang lahir setelah kemerdekaan, juga terus mengukuhkan kehadirannya di dunia digital,” kata PR Specialist XYZ+ Amelia Fitriani dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.

Dalam penelusuran yang dilakukan di mesin pencari Google Search pada Rabu (21/12), pihaknya melakukan penelusuran dengan menuliskan kata kunci 30 nama sastrawan Indonesia ternama pada era pra dan pasca-kemerdekaan, dengan menggunakan tanda kutip (“…”) di kotak pencarian Google agar hasil yang ditampilkan lebih spesifik dan akurat.

Dari hasil penelusuran tersebut didapati bahwa di antara penulis yang lahir pada era sebelum kemerdekaan, Amir Hamzah lebih banyak beritanya dibandingkan dengan Pramoedya Ananta Toer dan Chairil Anwar dalam penelusuran Google.

Sementara penulis yang lahir pada era pasca kemerdekaan dengan pencarian terbanyak, diungguli oleh Denny JA lebih dibandingkan dengan Dewi Lestari, Andrea Hirata dan Eka Kurniawan.

Amelia membeberkan hasil penelusuran menunjukkan pada deretan tiga teratas, yakni Amir Hamzah dengan 2.050.000 hasil pencarian, Pramoedya Ananta Toer dengan 1.570.000 hasil pencarian dan Chairil Anwar dengan 1.430.000 hasil pencarian.

Kemudian disusul oleh Denny JA dengan 648.000 hasil pencarian, Dewi Lestari dengan 503.000 hasil pencarian.

Pada urutan selanjutnya ada nama Sapardi Djoko Damono dengan 475.000 hasil pencarian, Andrea Hirata dengan 397.000 hasil pencarian dan Taufik Ismail dengan 289.000 hasil pencarian.

Nama lain yang muncul secara berurutan adalah Eka Kurniawan, HB Jassin, Ayu Utami, W.S. Rendra, Leila S Chudori, Goenawan Mohamad, Putu Wijaya, Ahmad Tohari, Mochtar Lubis, Joko Pinurbo, Djenar Maesa Ayu, Abdoel Moeis, Nh. Dini, Sutardji Calzoum Bachri, Eka Budianta, Sutan Takdir Alisjahbana, Sitor Situmorang, Afrizal Malna, Abdul Hadi W.M., Norman Erikson Pasaribu, Widji Thukul, Marah Roesli.

Menurutnya penelusuran dilakukan untuk menunjukkan betapa para penulis, baik yang lahir pada era sebelum kemerdekaan maupun setelah kemerdekaan, tetap menjadi berita dan eksis secara digital. Tingginya pencarian, merupakan bukti bahwa para sastrawan selalu dikenang sebagai seorang tokoh pahlawan nasional sekaligus sebagai sastrawan Pujangga Baru.

Misalnya Pramoedya Ananta Toer dikenang atas karya-karyanya yang dibuat di tengah ketatnya rezim Orde Baru seperti Tetralogi Buru, Arus Balik dan Arok Dedes bahkan lahir saat ia ditahan di Pulau Buru selama 14 tahun.

Kemudian Denny JA sebagai penggagas genre baru dalam dunia sastra, yakni puisi esai pada tahun 2012 dengan bukunya “Atas Nama Cinta”.

“Jika filsuf ternama dari Prancis, Descartes pernah membuat ungkapan, ‘aku berpikir maka aku ada’, maka pada era digital saat ini, buah pikiran para penulis pun juga ditunjukkan pada eksistensinya di dunia digital,” kata Amelia.

Ia turut menekankan jika penelusuran dilakukan dengan secara sederhana, sehingga bukan menjadi acuan atau ranking atas nama-nama penulis top tanah air tersebut.

Sebab mesin pencari Google tidak akan menampilkan hasil yang sama serta mudah berubah di jam yang berbeda, akibat banyak faktor seperti waktu, lokasi IP (Internet Protokol) perangkat dan riwayat pencarian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *